13 Desember 2017

TUDM Nilai Aset Pesawat MPA dan UAV, 
Tingkat Keupayaan

13 Desember 2017


Airbus C-295 MPA (image : AirbusMilitary)

IPOH  – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) sedang membuat penilaian untuk menentukan empat unit pesawat Maritime Patrol Aircraft (MPA) yang sesuai bagi meningkat keupayaan pasukan tersebut pada masa depan.

Panglima Tentera Udara, Je­neral Tan Sri Affendi Buang berkata, empat pesawat tersebut merupakan aset terbaharu yang telah diluluskan kerajaan kepada TUDM pada pembentangan Bajet 2018, Oktober lalu.

Selain itu kata Affendi, pihak­nya juga sedang melihat keupayaan lain yang relevan melibatkan pembangunan pesawat tanpa pemandu (UAV) sebagai langkah persediaan menghadapi ancaman baharu di masa hadapan.

“Pada masa yang sama, TUDM juga dalam perjalanan untuk memperkuat dan memperkasakan lagi keupayaan kita dengan peralatan yang konvensional dan bukan konvensional.

“Ini adalah untuk menentukan kita benar-benar bersedia untuk menghadapi sebarang ancaman tidak kira pada masa sekarang dan juga masa hadapan, selain memastikan keupayaan kita sentiasa setaraf dengan keupayaan negara serantau yang lain,” katanya.

Beliau berkata demikian dalam sidang akhbar selepas menyempurnakan perbarisan tamat latihan perajurit muda TUDM Siri 57/2017 di padang kawad Akademi Tentera Uda­ra (ATU) di sini hari ini.

Seramai 285 pelatih berjaya menamatkan latihan yang diadakan selama 22 minggu bermula 1 Julai sehingga 31 Disember itu.

(Utusan)

Australia has Agreed to Sell 18 F/A-18 A/B Classic Hornets to Canada

13 Desmber 2017


RAAF F/A-18A/B Hornet (photo : wiki)

Sale of Australian Classic Hornets to Canada

Minister for Defence, Senator the Hon Marise Payne, today announced the Government has agreed to the sale of 18 Royal Australian Air Force F/A-18 A/B Classic Hornets to the Government of Canada. 

The offer follows an expression of interest from the Canadian Government received in September. The sale of the aircraft and associated spares remains subject to final negotiations and Country of Origin export approvals.

Defence plans to withdraw its fleet of F/A-18A/B Classic Hornets from service by 2022, which will be progressively replaced by the F-35A Joint Strike Fighter, Australia's new fifth-generation air combat capability.

Minister Payne spoke with her  Canadian counterpart, Minister for National Defence Harjit Sajjan, to welcome the sale.

“Australia greatly values our longstanding and broad bilateral defence relationship with Canada, and this decision is another example of our close and strong partnership,” Minister Payne said.

“The aircraft will supplement Canada’s existing fleet as it develops and implements its plan to replace the Royal Canadian Air Force fighter jet fleet.

Transfer of the first two aircraft is expected to occur from the first half of 2019, in line with the current plan to transition to the Joint Strike Fighter.

Australia’s first two Joint Strike Fighters are expected to arrive in Australia at the end of 2018.

(Aus DoD)

TNI AU Terapkan Kebijakan Penggelaran “No Area Left with No Air Cover”

13 Desember 2017


TNI AU rencananya akan menambah skadron tempur dari tipe pesawat yang sudah dimiliki sebelumnya (image : Lockheed Martin)

TNI AU Gelar Kekuatan di Pangkalan Terdepan

TNI AU. Kasau Marsekal TNI Hjadi Tjahjanto S.IP menyatakan, TNI AU akan mengubah pola gelar kekuatan tempur . Pola gelar yang selama ini terpusat di wilayah tertentu, diperbarui dengan kebijakan menempatkan satu flight pesawat tempur di beberapa pangkalan udara terdepan. Dengan pola gelar tersebut diharapkan TNI AU dapat mewujudkan konsep “No Area left with no air cover” (tidak ada wilayah dibiarkan tanpa perlindungan udara).

“Saat ini sedang digelar satu flight pesawat T-50i Golden Eagle di Kupang. Kedepan juga akan di gelar unsur-unsur pesawat tempur di Pangkalan terdepan lainnya”. Kata Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP., dalam pembekalannya kepada 105 Pasis Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) Angkatan 102  di ksatrian Sekkau, Halim Perdanakusuma, Selasa (12/12). Sekkau Angkatan 102 diikuti 101 TNI AU,  tiga Pasis diantaranya Wara, lima Pasis TNI AU di luar negri, serta dua Pasis TNI AD dan dua Pasis TNI AL.

Kasau optimis kebijakan dan strategi tersebut dapat dilaksanakan mengingat kondisi kesiapan pesawat mencapai  100% demikian juga kesiapan pesawat helikopter yang tinggi untuk misi SAR,  akan mendukung penempatan pesawat tempur di beberapa pangkalan udara terdepan.  Bila hal ini dikaitkan dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan Indonesia sebagai poros maritim dunia maka, kebijakan penggelaran “No area left with no air cover” dapat memberikan jaminan perlindungan udara di atasnya.

Pembangunan Kekuatan TNI AU

Di bidang pembangunan kekuatan, kedepan TNI AU akan menambahan 3 Skadron tempur, 2 Skadron angkut berat/sedang/ringan,1 Skadron helikopter, 2 Skadron PTTA/UAV. Selain itu juga pengadaan pesawat berkemampuan khusus terdiri dari 4 Pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C), 4 Pesawat jet tanker, Helikopter anti teror, 12 Satuan Radar, serta pengadaan pesawat Multipurpose Amphibious.

Sedangkan bidang pembinaan kemampuan, TNI AU akan memenuhi siklus latihan yang telah direncanakan secara ketat dan terus meningkatkan kualitasnya melalui pelaksanaan evaluasi serta melaksanakan latihan bersama dengan negara lain.

(TNI AU)

Australian Base HMAS Cairns Set for AU$300m Upgrade in Preparation for New OPVs

13 Desember 2017


HMAS Cairns Naval Base. (photo : RAN)

Royal Australian Navy base HMAS Cairns will be undergoing a $300 million upgrade to accommodate new offshore patrol vessels to be built under German shipbuilder Lurssen as prime contractor.

HMAS Cairns will be home to four of the new vessels.

The upgrades were announced by member of the House of Representatives, Warren Entsch MP, Member for Leichardt, who noted that the government approval for investment represented an additional $200 million for works on the upgrade.

“This comes on top of the $22 million which has already been planned for a mid-term refresh in 2019-20, and another $313 million for the redevelopment of HMAS Cairns post 2025-26,” Entsch said.

“That takes the overall committed spend for HMAS CAIRNS to $635 million over the next 12 years, which is $215 million more than the $420 million which was first committed in the in the white paper.”

The 12 new offshore patrol vessel, to be delivered by Lurssen under a project worth up to AU$4 billion, will start construction in the fourth quarter of 2018 and are expected to start entering service in 2021.

Based on Lurssen’s OPV80 design adapted to Australian requirements, the vessels will be 80 meters in length with a displacement of 1700 tonnes and a draught of 4 meters.

The vessels will be fitted with a 40mm gun for self-protection, three 8.4m sea boats, and command and communication systems. This will allow the OPVs to operate alongside Australian Border Force vessels and other Australian Defence Force units.

(Naval Today)

12 Desember 2017

4 Pesawat F16 C dari Guam Mendarat di Lanud Iswahjudi

12 Desember 2017

Pesawat F16 C memerlukan waktu sekitar 5 jam dari Guam menuju Lanud Iswahjudi (all photos : detik)

Magetan - Sebanyak empat pesawat F16 C tiba di Lanud Iswahjudi Madiun. Keempat pesawat tempur tersebut langsung didatangkan dari Guam untuk mengisi skuadron udara 3 Lanud Iswahjudi.

"Ada 4 pesawat tempur jenis F16 C kami datangkan langsung dari Guam untuk melengkapi sarana pengamanan wilayah udara Indonesia," ujar Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama Samsul Rizal kepada wartawan di Lanud Iswahjudi Madiun, Jalan Raya Solo Maospati, Magetan, Selasa (12/12/2017).

Samsul mengatakan, seharusnya batch terakhir ini yang datang ada 6 pesawat. Namun karena masih ada masalah engine, maka dua pesawat lain belum bisa diikutkan.

"Seharusnya batch terakhir ini yang datang 6 pesawat. Karena masih ada masalah engine sehingga masih di Guam. Masih harus menunggu perbaikan dulu," terang Samsul.

Dengan hadirnya empat pesawat F16 Tipe C ini, berarti total sudah ada 22 pesawat F16 C yang di datangkan ke Indonesia. 22 Pesawat tersebut di tempatkan di Skuadron 3 Lanud Iswahjudi dan Skuadron 16 Lanud Rusmin Nurjadin Pekanbaru. Sesuai rencana, jumlah pesawat tempur F16 C yang didatangkan berjumlah 24 pesawat. 

Empat pesawat F16 C ini menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Guam. Berangkat pukul 05.30 WIB dari Guam dan mendarat di Lanud Iswahjudi Madiun pukul 11.45 WIB. Empat pesawat tempur F16 Tipe C yang memiliki kursi tunggal ini dipiloti oleh pilot dari USAF Amerika Serikat.


Samsul menambahkan pesawat yang didatangkan dari Guam ini adalah bekas pesawat AS yang kondisinya terbilang masih bagus. Mesinnya dibuat tahun 1990 dan masih bisa digunakan hingga 20 tahun ke depan.

"Iya, ini pesawat bekas Amerika tapi masih bagus buatan tahun 1990 dan masih bisa di pakai 20 tahun ke depan," pungkas Samsul.

"Seharusnya batch terakhir ini yang datang 6 pesawat. Karena masih ada masalah engine sehingga masih di Guam. Masih harus menunggu perbaikan dulu," terang Samsul.

Dengan hadirnya empat pesawat F16 Tipe C ini, berarti total sudah ada 22 pesawat F16 C yang di datangkan ke Indonesia. 22 Pesawat tersebut di tempatkan di Skuadron 3 Lanud Iswahjudi dan Skuadron 16 Lanud Rusmin Nurjadin Pekanbaru. Sesuai rencana, jumlah pesawat tempur F16 C yang didatangkan berjumlah 24 pesawat. 

Kedatangan empat pesawat tempur F16 disambut pejabat muspida dan muspika se-Bakorwil Madiun. Setibanya di Lanud Iswahjudi keempat pilot mendapat kalung bunga dari Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama Samsul Rizal. Tampak Bupati Madiun Muhtarom juga hadir memberikan karangan bunga serta Kapolres Magetan AKBP Muslimin dan Komandan Kodim 0804 Letkol Heri Bayu Widiatmoko.

(Detik)

Fourth Gepard-Class Scheduled to Arrived in Mid January 2018

12 Desember 2017


Fourth Gepard class 487 carrying by Rolldock Star vessel (photo : defence.pk)

Fourth Gepard-class warship begins journey to Vietnam

VOV.VN - On November 28, the Netherlands’ heavy lift transport vessel, Rolldock Star, carrying the fourth Gepard-3.9 frigate for delivery to Vietnam docked at Novorossiysk port in the Black Sea.

Earlier this year, the Vietnam Navy’s third Gepard-3.9 frigate was transported by heavy load carrier Rolldock Star from Russia to Vietnam and arrived at Cam Ranh Port in late October after a 1.5-month journey.

As scheduled, the fourth frigate built by the Gorky Shipbuilding Company based in Zelenodolsk, Russia is destined to arrive at Cam Ranh Port in Khanh Hoa province in mid-January, 2018.

According to Russia’s BusinessOnline, the maintenance of the third and fourth warships will run until May 9, 2018.


Fourth Gepard class 487 (photo : Igor Terokhin)

In terms of features, the two new warships are similar to the two previous Gepard-class 3.9 frigates. The difference is that the second pair are equipped with anti-submarine weapons (2 torpedo tubes) and other modern devices used for detecting enemy submarines.

Vietnam’s first two Gepard-class 3.9 frigates, the missile escort vessels Dinh Tien Hoang (HQ-011) and Ly Thai To (HQ-012), built by the Rosoboronexport Company at the Zelenodolsk shipyard, were dispatched to Brigade No.162 of Naval Region 4 under the Vietnam People's Navy six years ago.

According to Russian News Agency TASS, Vietnam has been an important partner of Russia in military technology cooperation for the past decades.

Over recent years, Vietnam has signed numerous contracts for weapon procurement from Russia with a total value of more than US$ 4.5 billion.

(VoV)

LAPAN Kembangkan UAV LSU-03 Full Carbon

12 Desember 2017


UAV LAPAN Surveillance LSU-03 FC (photo : LAPAN)

Tim aerostruktur Pusat Teknologi Penerbangan @pustekbang LAPAN mengembangkan pesawat tanpa awak LAPAN Surveillance UAV Full Carbon LSU-03 FC (Full Carbon).

Diharapkan dengan body yang terbuat dari karbon yang lebih ringan daripada body sebelumnya dari bahan GFRP (Glass Fiber Reinforced Polymer) pesawat ini mampu meningkatkan ketahanan jelajah dengan konsumsi bahan bakar yang lebih irit.

Pada body sebelumnya (LSU-03 NG, generasi sebelum LSU-03 FC), pesawat ini mampu terbang sejauh 600 km dengan muatan seberat 24 kg. Kecepatan jelajah 100 km/jam kecepatan max 150 km/jam (arah angin juga berpengaruh).

Pesawat tanpa awak ini menjelajah pada ketinggian 150-300 meter. Pada November 2015 lalu, pesawat LSU-03 NG meraih Rekor Muri sebagai pesawat tanpa awak dengan daya jelajah terlama dan terjauh 340 km dalam jangka waktu 3 jam 39 menit. Dengan body full carbon composite nanti diharapkan akan jadi lebih cepat dan jadi lebih jauh.

(LAPAN)