25 September 2016

PT PAL Selesaikan Konstruksi Kapal SSV Kedua Pesanan Filipina

25 September 2016

Kapal SSV kedua pesanan Filipina akan diberi nama BRP Davao Del Sur 602 sama seperti Tarlac ini juga nama provinsi di Filipina (all photos : Gombaljaya)

PAL selesaikan pesanan kedua kapal perang Filipina

Surabaya (ANTARA News) - PT PAL Indonesia (Persero) telah menyelesaikan kapal perang pesanan kedua Kementerian Pertahanan Filipina dan berencana diluncurkan pada tanggal 29 September 2016 di galangan kapal PT PAL Indonesia wilayah Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.

Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin, di Surabaya, Sabtu mengatakan penyelesaian kapal perang jenis "Strategic Sealift Vessel" (SSV) pesanan kedua ini lebih cepat tiga-empat bulan dibanding proses pesanan pertama yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun.

"Secara keseluruhan pesanan kedua ini lebih cepat dibanding yang pertama, yakni sekitar tiga hingga empat bulanan," katanya.



Sebelumnya, pesanan pertama kapal SSV canggih karya mandiri anak bangsa yang berada di kelas "Lloyd Register" itu telah diluncurkan pada 18 Januari 2016, dan telah diberi nama oleh Kementerian Pertahanan Filipina dengan nama Tarlac.

"Tarlac merupakan kapal perang pertama yang berhasil diekspor Indonesia, dan merupakan bagian dari pengembangan kapal pengangkut "Landing Platform Dock" (LPD) yang didesain panjang 123 meter, lebar 21,8 meter, dan memiliki kecepatan 16 knot dengan ketahanan berlayar selama 30 hari di laut lepas," katanya.

Sementara itu, pimpinan proyek pengerjaan kapal perang pesanan Filipna Turitan Indaryo mengatakan cepatnya proses pengerjaan pesanan kedua karena PT PAL Indonesia menggunakan prinsip "one day one blok".



"Artinya setiap hari harus ada blok-blok kapal yang diselesaikan, sehingga bisa lebih cepat dari waktu yang ditentukan," kata Turitan yang kini menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha.

Sebelumnya, Turitan menjelaskan ketepatan waktu pengerjaan dan pengiriman menjadi catatan tersendiri dan merupakan nilai tambah yang ditawarkan PT PAL Indonesia kepada negara pemesan.

"Selain itu kualitas barang dan harga yang bersaing menjadi keunggulan bahwa produk bangsa Indonesia dapat bersaing dengan dunia internasional," katanya.



Sebelumnya, Filipina memesan dua unit kapal perang LPD jenis SSV yang dilengkapi persenjataan sebagai bentuk upaya pertahanan diri.


SSV dilengkapi pendaratan tiga helikopter dan hangar, serta memiliki kemampuan mengangkut dua unit kapal landing craft utility (LCU) ditambah berbagai macam kendaraan tempur dari truk militer hingga Amphibious Assault Vehicle (AAV). 

Dengan memiliki draft kapal lima meter, SSV mampu menjangkau hingga ke perairan dangkal serta dapat difungsikan sebagai rumah sakit apung dan SAR ketika sedang terjadi bencana.

(Antara)

Ukraine Continue Develops BTR-4M with Machine Gun

25 September 2016

 Modification of the BTR-4 (B1370) with a machine gun mount (all photos : andrei bt)

Ukraine tested the new version of wheeled armored personnel carriers  BTR-4 (B1370) with a machine gun mount, which is being developed for the Indonesian armed forces. Reported the andrei-bt.livejournal.com.


Earlier it was reported that several military vehicles on the basis of the BTR-4, including a machine gun mount has already been sent to Indonesia to conduct a series of benchmark tests.

The new version of BTR-4M has successfully demonstrated the potential customer a good nautical characteristics during testing in Saltov reservoir.



The new version of an armored personnel carrier was the German Deutz engine and additional side and head-on modules for improving the characteristics of seaworthiness and buoyancy.



It is reported that Marines (one of the branches of the forces of the Naval Forces of Indonesia) are interested in buying at least 50 wheeled combat vehicles after passing a series of tests, some units were shipped by expedition ship.



After the evaluation test will take a final decision on supplying of combat vehicles for the Indonesian armed forces.

(Military Informant)

24 September 2016

First Destroyer Hobart Successfully Completes Builder Sea Trials

24 September 2016

 Hobart first Air Warfare Destroyer (all photos : Aus AWD)

Today, the Air Warfare Destroyer Alliance achieved a major milestone with the successful completion of Builder Sea Trials for the first destroyer Hobart following several days at sea off the coast of South Australia.

AWD Alliance General Manager Lloyd Beckett said that sea trials was the commencement of an exciting new phase for the Air Warfare Destroyer project.

“This first phase of sea trials, conducted over several days in the local South Australian waters, marks the successful testing of the ship’s hull, propulsion and navigation systems. A second phase of more advanced trials will take place in early 2017 when Hobart trials its combat and communications systems,” he said.

The successful completion of Hobart’s Builder Sea Trials represents a decade of dedication and effort  by the AWD workforce on one of the most complex shipbuilding projects in Australia’s history.
“It’s the culmination of years of design and procurement, construction and outfitting, system testing, training and equipment activation.  It gives me an enormous sense of pride in seeing our hard work culminate in a successful trial period at sea,” said Mr Beckett.

Significant progress has been made on the AWD project and destroyer Hobart to reach this milestone with the ship build commencing in January 2010, hull consolidation in March 2014, and official launch - when the ship floats for the first time - in May 2015.

AWD Alliance Program Manager, Commodore Craig Bourke also expressed his satisfaction: “The completion of Hobart’s Builder Sea Trials is a significant step towards delivery of the first AWD to Defence and the most capable warships ever operated by the Royal Australian Navy.”



“The AWD Alliance team of shipbuilders and systems integrators can take great pride in attaining this major milestone of sending our first AWD to sea and successfully completing its platform trials,” he said.

Over the coming months, further progress on the AWD Project will be demonstrated when the second destroyer Brisbane enters the water following its launch in December 2016, as well as hull consolidation of the third destroyer, Sydney, in August 2017.

The AWD Alliance, consisting of shipbuilder ASC, combat systems integrator Raytheon Australia and the Government’s Capability Acquisition and Sustainment Group, offered their congratulations for the successful completion of Builder Sea Trials on the ships return to Techport:

“Today is a day when everyone who works in Australia’s highly skilled and professional naval shipbuilding industry can stand tall and be immensely proud.  Sea Trials is a visible demonstration of our success as a shipbuilding team,” said ASC Shipbuilding CEO Mark Lamarre.

“Moving forward, the highly skilled ASC workforce will continue to consolidate and outfit the remaining two destroyers Brisbane and Sydney, implementing lessons learnt from Hobart’s build along the way, and creating significant improvement in our nation’s shipbuilding capability,” he said.



Raytheon Australia Managing Director, Michael Ward, also acknowledged the successful completion of Hobart’s first phase of sea trials.

As the combat systems integrator for the AWD project, Raytheon Australia has applied its highly skilled Australian workforce of architects, systems engineers and project managers to the AWD project over the last decade

“Raytheon Australia is responsible for the design, delivery and integration of the AWD Combat System which comprises ten major subsystems, and more than 3,500 major pieces of combat system equipment.   This sophisticated combat system contributes to making AWD the most advanced and lethal warship ever operated by the Royal Australian Navy.”

“We look forward to Hobart’s continued success on sea trials next year when the AWD’s advanced combat system is tested.” Mr Ward said.

Following completion of further sea trials in early 2017, the Air Warfare Destroyer Alliance is scheduled to deliver Hobart to the Department of Defence in June 2017.

(Aus AWD)

Kekuatan Sayap N219 Akan Diuji

24 September 2016


Uji statik sayap N-219 di PT DI (photo : Angkasa)

Meski tahapan produksi mundur dari jadwal yang  ditentukan, fase Engineering Manufacturing Development N219 masih terus berjalan. Seperti dipantau Angkasa, dalam minggu-minggu terakhir ini enjinir PT Dirgantara Indonesia tengah serius mempersiapkan uji statik untuk sayap komuter 100 persen karya Anak Bangsa tersebut.

“Saat ini masih melakukan preparation test, menuju wing static test. Butuh waktu karena semua harus dipersiapkan secara matang dan cermat. Agar tak ada kesalahan di tengah jalan. Semua sensor, hidrolik dan rig harus kami cek dulu. Tak boleh ada yang kelebihan beban,” ujar Ir. Palmana Banandhi, Chief Engineer N219 kepada Angkasa, Jum’at (23/9/2016).

Bagi industri pesawat terbang manapun di dunia, wing static test adalah salah satu tahapan terpenting. Dari sini, rancangan yang semula ada di atas kertas akan dinyatakan valid memenuhi semua persyaratan. Uji tekanan terhadap sayap akan memberi jaminan, bahwa sayap akan mampu menahan semua beban yang bertumpu padanya. Mulai dari badan pesawat dan isinya, juga dua mesin yang bergantung di kedua sisi sayap.

Dalam waktu bersamaan, dikatakan, DI juga tengah menyiapkan semua keperluan yang harus dipenuhi untuk pembuatan sertifikat terbang pesawat (N219 type certificate) bersama otoritas terkait, yakni Ditjen Perhubungan Udara.

“Penyelesaiannya memang mundur dari jadwal yang telah ditentukan, karena memang banyak hal harus dipersiapkan dengan kekuatan sendiri. Insya Allah, jika sertifikat terbang  selesai Oktober 2017, tahun berikutnya N219 akan masuk tahapan produksi,” pungkas Palmana.

(Angkasa)

RTN Commissioned HTMS Laemsing (PGB 561)

24 September 2016


HTMS Laemsing 561 (all photos : Thaidefense news & AAG)

New patrol gunboat for Thai navy

The Royal Thai Navy (RTN) commissioned HTMS Laemsing (PGB 561), a domestically built patrol gunboat, on 21 September after sea trials.



The RTN bought its plans and materials from Marsun in a $20 million deal (excluding weapon systems). It was built by the Royal Thai Naval Dockyard to gain more experience in shipbuilding under a self-reliance policy.

The 520t vessel, launched on 25 August 2015, will cooperate with other Thai services for both anti-surface and anti-air missions. As well as these combat missions, HTMS Laemsing can intercept suspicious vessels, perform anti-piracy and antiterrorist operations, harbour security and search and rescue.


HTMS Laemsing is 58m long, and has a 9.3m beam and 2.9m draft. Three Caterpillar 3516C engines offer a maximum speed of 23kt, and it has a range of more than 2,500nm. Able to operate in Sea State 5, the vessel accommodates 53 crewmen for up to seven days.



Armament is a refurbished OTO Melara 76/62 naval gun, 30mm MSI DS-30 cannon and two 12.7mm machine guns. Fire control and the combat management system are the Thales Mirador and TACTICOS respectively. Elbit Systems supplied the CoMPASS electro-optics.

The vessel has a wide stern deck able to install more equipment and weapons (e.g. missiles) in the future.



VAdm Sutthinan Sakulpuchapong, commander of the naval dockyard, said ‘It took 1,003 days to build HTMS Laemsing. We previously built four classes of patrol vessel, the latest being the Krabi-class OPV, so we have more experience in development and maintenance. We plan to build two more Laemsing-class boats in the future.’

The last domestically built patrol gunboat was the Hua Hin class, with three vessels entering service 15 years ago.



The Laemsing class is expected to replace all ageing medium-range patrol boats under the navy’s 2008-17 strategic plan.

(Shephard)

Super Tucano TT-1302 Selesai Jalani Perawatan 1.000 Jam Terbang di Depohar 30

24 September 2016


Serah terima Super Tucano registrasi TT-1302 usai menjalani perawatan 1.000 jam terbang di Sathar 32, Malang (22/9/2016). (all photos : TNI AU)

Super Tucano Selesai Jalani Perawatan 1.000 Jam Terbang

Pesawat Tempur Taktis EMB-314 Super Tucano nomor registrasi TT-3102 selesai menjalani perawatan 1.000 jam terbang di Satuan Pemeliharaan (Sathar) 32, Depo Pemeliharaan (Depohar) 30, Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Usai menjalani perawatan, pesawat diserahkan kembali ke Skadron Udara 21 untuk dioperasikan lagi, Kamis (22/9).

Masa perawatan dilaksanakan pada rentang waktu 5 – 22 Agustus 2016. Serah terima dilakukan oleh Kadisrendalhar Depohar 30 Letkol Tek Nimrod P. Sihombing mewakili Dandepohar 30 kepada Komandan Skadron Udara 21 Letkol Pnb Dedy Iskandar di Malang.



Empat pesawat Super Tucano gelombang pertama datang ke Indonesia pada 22 September 2012. Indonesia membeli 16 EMB-314 buatan Embraer dari Brasil. Sebagaimana penetapan pihak pabriknya, setiap 1.000 jam terbang penggunaan, pesawat harus menjalani perawatan Maintenance Planning Document (MPD) sebelum digunakan kembali. Tiga Super Tucano lainnya akan menjalani perawatan serupa secara bergiliran di tempat yang sama, yakni nomor registrasi TT-1301, TT-1303, dan TT-1304.

Selain mengemban tugas sebagai pesawat tempur taktis untuk penyerangan sasaran darat, di TNI AU/Kohanudnas Super Tucano juga digunakan sebagai pesawat interseptor kecepatan rendah (low speed interceptor). EMB-314 beberapa kali dilibatkan dalam latihan puncak Angkasa Yudha maupun Latihan Gabungan TNI dengan hasil memuaskan. Akurasi pengeboman pesawat ini cukup baik.

(Angkasa)

3 Kapal Patroli Cepat Buatan dalam Negeri Resmi Perkuat TNI AL

24 September 2016


Peresmian 3 kapal patroli jenis PC (Patrol Craft) untuk TNI AL (photo : TNI AL, IMF)

Sebagai salah satu perusahaan dalam negeri, PT Palindo Marine  diharapkan mampu mempertahankan dan meningkatkan kualitas kemampuannya dalam memproduksi kapal perang berteknologi tinggi.

Beberapa kemampuan ketiga kapal ini diantaranya mampu melaksanakan peperangan anti kapal permukaan, peperangan anti udara, operasi patroli laut, dan operasi Search And Rescue (SAR).



Kegiatan diawali dengan sambutan Direktur PT Palindo Marine Harmanto dilanjutkan dengan sambutan Aslog Kasal Laksda TNI Mulyadi, S.Pi. M.A.P, dilanjutkan dengan prosesi launching yang secara simbolis ditandai dengan pemotongan tali kapal.

Nama Tatihu, Layaran dan Madidihang diambil dari nama-nama ikan yang ada di Indonesia.

Ketiganya dikenal sebagai perenang cepat dan gesit di laut sehingga diharapkan mampu bermanuver dengan cepat dan gesit dalam mengemban tugas menjaga kedaulatan negara.



Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kadismatal, Kadisadal, Kadislaikmatal, Danlantamal IV Tanjungpinang, Danguskamla Armabar, Kepala Kantor Kamla Zona Maritim Barat serta staf yang terlibat.

Sebagai salah satu perusahaan dalam negeri, PT Palindo Marine  diharapkan mampu mempertahankan dan meningkatkan kualitas kemampuannya dalam memproduksi kapal perang berteknologi tinggi.

Beberapa kemampuan ketiga kapal ini diantaranya mampu melaksanakan peperangan anti kapal permukaan, peperangan anti udara, operasi patroli laut, dan operasi Search And Rescue (SAR).



Kegiatan diawali dengan sambutan Direktur PT Palindo Marine Harmanto dilanjutkan dengan sambutan Aslog Kasal Laksda TNI Mulyadi, S.Pi. M.A.P, dilanjutkan dengan prosesi launching yang secara simbolis ditandai dengan pemotongan tali kapal.

Nama Tatihu, Layaran dan Madidihang diambil dari nama-nama ikan yang ada di Indonesia. Ketiganya dikenal sebagai perenang cepat dan gesit di laut sehingga diharapkan mampu bermanuver dengan cepat dan gesit dalam mengemban tugas menjaga kedaulatan negara.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kadismatal, Kadisadal, Kadislaikmatal, Danlantamal IV Tanjungpinang, Danguskamla Armabar, Kepala Kantor Kamla Zona Maritim Barat serta staf yang terlibat.

(TribunNews)