24 Januari 2017

Ukrainian BTR-4M Successfully Tested in Indonesia

23 Januari 2017


BTR-4M during tested by Korps Marinir (all photos : Ukroboronprom)

Ukrainian BTR-4M have been successfully tested in a tropical climate in Indonesia. It is reported by the press service of  "Spetstehnoeksport" .

Five Ukrainian military vehicles were delivered to Marine Corps Indonesia in the framework of the contract signed in early 2014 between the Ministry of Defense of Indonesia and SE "Spetstehnoeksport", part of the GC "Ukroboronprom". Produced this technique on SE "Kharkiv Machine Building Design Bureau. Morozov ", a member of the Group.



Performance of the contract took place after delivery of the BTR-4, the major parties for the needs of the Ukrainian army, as part of reloading production capacity Ukrainian defense industry.

During the tests, in the presence of Ukrainian specialists were tested armored amphibious capabilities at sea, conducted fire tests in the highlands and proven running performance Ukrainian military vehicles on the road and on difficult terrain.


Director "Spetstehnoeksport" Paul Barbula noted that the tests carried out Ukrainian art commission, which included representatives of various departments of the Ministry of Defence of Indonesia. The realization of this contract was made possible by the effective interaction Ukrainian defense industry enterprises and the Ukrainian Embassy in Indonesia.



Immediately move the test elaborated on the correspondent of the Indonesian edition of Angkasa Ario Nugroho, who described in detail all the stages of testing Ukrainian armored vehicles, which took place January 19, 2017.

Marsh 100 km long started during the night, when the column with the BTR-4M on its course motorways left the capital of Indonesia, Jakarta, to the coast of the Java Sea. And at dawn armored amphibious tested its properties by the sea.



"Combat vehicles stably and smoothly behave in the water," - says the Indonesian edition. BTR-4 have the wheel formula 8 × 8, equipped with Deutz engines and transmissions the Allison, which correspond to NATO standards. These engines are characterized by their reliability, efficiency and capacity.

After water test, a column of armored personnel carriers 4M went to the place of shooting. Despite the fact that the road to the shooting range has been eroded powerful rains, Ukrainian fighting vehicles have successfully completed sea trials. As the newspaper notes Angkasa, the Indonesian military even specially prepared tracked vehicles for towing without waiting for such powerful running properties BTR-4M.



The place of fire tests have been chosen canyon, which allows you to test the ability of the main Ukrainian armament combat vehicle.

Each of the five BTR-4M, who took part in the shooting, has successfully hit the target conditional on certain distances, increasing the accuracy of the Ukrainian weapons. Indonesian journalists were frankly amazed at the power of military unit "Sail", which is installed on BTR-4M, and modern digital sighting system.

(Military Informant)

Pangarmatim Hadiri Penyerahan Kapal Perusak Kapal Rudal

24 Januari 2017


Kapal fregat TNI AL KRI Raden Eddy Martadinata-331 (all photos: Yeya Kemboetz)

DISPENARMATIM,.Surabaya - Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto, S.H., M.A.P., menghadiri acara serah terima Alutsista baru berjenis Kapal Perusak Rudal (KCR)-1 KRI Raden Edi Martadinata-331 dari PT PAL kepada Menteri Pertahanan Ryamirzad Ryachudu yang diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kabaranahan Kemhan) Laksda TNI Ir. Leonardi, M.Sc.,dengan didampingi oleh Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. M. Firmansyah Arifin serta dihadiri, Asisten Operasi (Asops) Kasal Laksda TNI I.N.G.N. Ary Atmaja, S.E., Komandan Satgas PKR, pejabat teras Mabesal dan Koarmatim, di dermaga Divisi Kapal Perang PT.PAL Indonesia, Surabaya, Senin (23/01/2017).

Pada kesempatan tersebut, secara simbolis dilaksanakan penandatanganan naskah serah terima KRI Raden Edi Martadinata-331 dari Dirut PT Pal Indonesia dan (Persero) Project Director PKR DSNS Jeroen waalewijn kepada Kabaranahan. Selanjutnya, Kabaranahan menyerahkan kepada TNI AL yang diterima oleh Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksda TNI Mulyadi, S.Pi., M.A.P.,



Dalam sambutan Menhan yang di bacakan oleh Kabaranahan menyampaikan bahwa dalam pembangunan Kapal PKR-1. Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda selaku Main Contractor melaksanakan Transfer of Technology kepada PT PAL Indonesia dalam rangka meningkatkan kemampuan PT PAL Indonesia dalam pembangunan kapal perang. Program ini dilaksanakan melalui mekanisme Joint Production dimana untuk Kapal PKR-1 Modul 1,2,4 dan 6 dikerjakan oleh PT PAL Indonesia di Indonesia, sedangkan Modul 3 dan 5 dikerjakan oleh DSNS di Belanda.

Keberhasilan program ToT ini dibuktikan dengan telah diserahkannya Kapal PKR-1 yang baru dilaksanakan, Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama yang baik dari semua pihak yang terkait serta keinginan yang kuat dan seluruh staf dijajaran DSNS dan PT PAL Indonesia untuk bisa memberikan yang terbaik bagi Bangsa dan Negara Indonesia di bidang pembangunan Kapal Perang. 

Semoga momentum kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua negara ini dapat terus ditingkatkan di masa masa mendatang.Usai pelaksanaan serah terima Pangarmatim beserta Para pejabat terkait menerima Cinderamata dari Project Director PKR DSNS. Selanjutnya Kabaranahan beserta rombongan meninjau KRI Raden Edi Martadinata-331.

(Portal Komando)

DSME Launches Thailand's First Multipurpose Frigate

24 Januari 2017


RTN frigate HTMS 471 (photos : Navy for Life) 

South Korean shipbuilder Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) launched a 122 m frigate on order for the Royal Thai Navy (RTN) on 23 January.

The vessel, which has been ordered under a THB14.6 billion (USD396 million) contract inked between the Thai government and DSME in August 2013, was launched at DSME's facilities in Okpo, the company confirmed to IHS Jane's on the same day.



The frigate, which has been given the pennant number 471, derives its design from the Kwanggaeto Daewang (KDX-1) destroyer in service with the Republic of Korea Navy (RoKN).

The platform displaces 3,650 tonnes, features an overall length of 122.5 m and an overall beam of 14.4 m, and can accommodate a crew of 136.

(Jane's)

23 Januari 2017

TNI AD Akan Beli Tank Pandur Buatan Austria

23 Januari 2017

Pandur II 8x8 dengan kanon 105mm (photo : AreaMilitar)

Liputan6.com, Jakarta - Markas Besar TNI Angkatan Darat berencana membeli tank Pandur dari Austria guna memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AD.


"Tank Pandur itu menjadi program yang kita bahas, karena ke depan juga akan menjadi pengganti alutsista kita yang sudah tua usianya. Itulah kira-kira yang jadi prioritas," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono di sela-sela pembukaan Rapat Pimpinan TNI AD 2017 di Mabesad, Jakarta Pusat, Senin (23/1/2017).

Mantan Pangkostrad itu, mengatakan ada dua pengadaan alutsista yang sudah dalam rencana strategi dan akan hadir di 2017. Tank Pandur merupakan pengembangan lanjut dari APC Pandur yang dikembangkan oleh Austria.

Pengadaan alutsista tersebut untuk mengganti alutsista TNI AD yang sudah usang. "Itulah kira-kira yang jadi prioritas kita," kata Mulyono seperti dikutip dari Antara.

Namun demikian, kata Mulyono, pihaknya belum bisa memastikan untuk membeli berapa unit tank Pandur itu.

"Kita belum bicara unit. Tapi kita masih bicara tentang spek dan uji fungsi nanti untuk yang baru itu," tambahnya.



Pandur II 8x8 dengan kanon 30mm (photo : wikiwand)

Kendaraan ini tersedia dalam dua konfigurasi 6x6 dan 8x8 meter. Versi dasar 6x6 dirancang untuk mengangkut tiga orang kru dan enam tentara dan dapat dipersenjatai dengan berbagai tipe senjata hingga kaliber 99 mm.

Sementara, untuk 8x8 dapat membawa sampai 12 orang tentara juga bisa dilengkapi dengan senjata hingga kaliber 105 mm. Kendaraan ini dapat terlindung dari senapan mesin Armor-piercing 7,62 mm dan proyektil armor-piercing 14,5 mm.

Rapim TNI AD 2017 yang dilaksanakan selama dua hari itu diikuti oleh 151 orang. Antara lain terdiri dan pejabat eselon, Kepala Badan Pelaksana Pusat TNI AD, seluruh Pangkotama (Pangdam) dan Danrem berpangkat Perwira Tinggi (Pati).

Kegiatan Rapim TNI AD merupakan tindak lanjut dari Rapim TNI yang dilaksanakan di Mabes TNI. Rapim itu dilaksanakan untuk mengevaluasi pelaksanaan program dan anggaran TA 2016 menyamakan persepsi, menyampaikan kebijakan dan garis besar Petunjuk Pelaksanaan Program dan Anggaran TA 2017 serta menyampaikan pokok-pokok kebijakan pimpinan TNI AD pada tahun 2017.

Rapim TNI AD tahun anggaran 2017 yang diikuti oleh seluruh unsur pimpinan yang ada di satuan jajaran Angkatan Darat kali ini mengusung tema "TNI AD Terlatih, Profesional, dan Manunggal Dengan Rakyat Siap Melaksanakan Tugas Pokok".


Selama pelaksanaan Rapim TNI AD diisi dengan kegiatan evaluasi pelaksanaan program kerja dan anggaran TA 2016 yang akan disampaikan oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI M Erwin Syahfrtri, serta penjelasan berbagai hal menonjol oleh pejabat lnspektur Jenderal Angkatan Darat (lrjenad) dan para Asisten Kasad.

(Liputan6)

THHE Destini Secures RM738.8m OPV Contract

23 Januari 2017


OPV with contract value RM738.9 million (USD 166 mio) for 42 months work (image : Damen)

KUALA LUMPUR: THHE Destini Sdn Bhd has secured a RM738.9 million contract for the supply, delivery, testing and commissioning of three units of offshore patrol vessels (OPVs) for Malaysia Maritime Enforcement Agency. 

In a filing to Bursa Malaysia today, THHE Destini said, the contract, for 42 months, was expected to contribute positively to its earnings and net assets per share for the financial years ending Dec 31, 2017 to Dec 31, 2020. 

THHE Destini is a joint-venture company between TH Heavy Engineering Bhd's (THHE) unit, THHE Fabricators Sdn Bhd, and Destini Shipbuilding and Engineering Sdn Bhd. 

(Bernama

Defense Minister: AW101 Chopper Purchase Still Unclear

23 Januari 2017


Leonardo AW-101 helicopter (photo : Biffo)

TEMPO.CO, Jakarta - Defense Minister Ryamizard Ryacudu was hesitant to comment on the final decision to purchase the AgustaWestland AW101 helicopter as he previously said that the decision to purchase the helicopter was canceled.

“I’ll coordinate with the new KSAU (Air Force Chief of Staff). We’ll coordinate to clear things up,” Ryamizard said on Friday, January 20, 2017.

Minister Ryamizard confirmed that he once said that the purchase was canceled since President Joko “Jokowi” Widodo declined to approve the purchase. “Yes, that was yesterday (I’ve once said that), it would then be handled by others, soon. But ask the new KSAU for details,” he said.

The new KSAU, Marshall Hadi Tjahjanto, was recently appointed by President Jokowi on Wednesday, January 18, 2017, to replace the vacant position left by Marshall Agus Supriatna, who is entering his retirement.

When further asked upon the plans to purchase the AW101, the Defense Minister stated that the final decision to purchase the U.K. and Italian-made helicopter will be communicated with every related party.

Hadi only provided a brief answer when being asked about the purchase. “Oh that’s still being discussed," he said.

The purchase of the AW101 has been in talks since 2015. The Air Force planned to purchase three units in 2016 and 2018. The helicopter would be used for transporting VIP guests, including the President and Vice President, as well as state guests.

The plan was finally scrapped after Jokowi considered it too expensive. Nonetheless, by the end of 2016, the air force planned to go forward with the purchase to be used for combat and rescue operations.

(Tempo)

Korps Marinir Lakukan Uji Tembak BTR-4M

23 Januari 2017


BTR-4M dengan kubah senjata BM-7 Parus (photo : Angkasa) 

Blamm! Dahsyatnya Uji Tembak BTR-4M Milik Marinir

Setelah menyelesaikan cek kondisi fisik dan kemampuan renang BTR-4 dengan hasil yang memuaskan di Tangerang, sekarang tiba saatnya fase yang paling dinanti-nanti, yaitu fase uji tembak. Maklum saja, fungsi asasi dari ranpur apalagi kalau bukan kemampuannya untuk menjagal ranpur lawan?

Untuk itulah, BTR-4M dipilih oleh Korps Marinir karena komplemen senjatanya yang sangat lengkap untuk menghadapi pertempuran multispektrum di berbagai sasaran di darat.

Untuk uji tembak, kelima BTR-4M anyar milik Korp Marinir harus berpindah lokasi karena pantai Tanjung Burung jelas tidak memungkinkan digunakan untuk pengujian kanon maupun senapan mesin berat. Tempat pilihan untuk melakukan uji tembak ini adalah suatu tempat di Bukit Hambalang, Sentul Jawa Barat. Lokasi yang dipilih memungkinkan untuk melakukan penembakkan ke jarak lebih dari 1 km, untuk menguji kemampuan kanon 30mm ZTM-1/ 2A72 sampai ke batas maksimum kemampuannya.

Sore hari 19 Januari 2017 kelima BTR-4M dimobilisasi untuk berpindah lokasi dari pantai ke bukit. Perpindahan dilakukan dengan kekuatan BTR-4M sendiri yang harus dipacu membelah kemacetan di jalan tol.


BTR-4M Korps Marinir TNI AL melakukan uji tembak  (photo : Angkasa) 

Satu catatan penulis, sejak keberangkatan, uji renang, dan kemudian berpindah tempat ke Hambalang, belum sekalipun panser-panser ini diisi bahan bakarnya. Ini membuktikan ketangguhan ranpur Ukraina ini dalam menempuh jarak yang ekstra jauh. Dalam catatan penulis, sekali isi bahan bakar penuh BTR-4M memang bisa menempuh jarak 600-700 km, jadi konsumsi bahan bakarnya memang cukup hemat untuk sekelas panser 8×8.

Setibanya di Hambalang, kelima BTR-4M melalap medan offroad menuju lokasi penembakan, dengan tanah yang gembur karena hujan selama seminggu terakhir. Tim dari Korps Marinir menyiapkan satu tank amfibi PT-76 sebagai pendamping dan penarik apabila BTR-4M butuh bantuan. Beruntung, sampai di lokasi PT-76 tersebut tidak perlu digunakan.

BTR-4M mampu melibas medan dengan performa prima. Kelima BTR-4M dijajarkan di puncak bukit, dimana lesan didirikan di bukit di depan bukit tempat kami berdiri, dipisahkan oleh lembah yang cukup curam.

Untuk BTR-4M pesanan Indonesia, kubah senjata yang dipilih adalah adalah Parus RCWS (Remote Controlled Weapon System), yang menggabungkan 4 tipe senjata sekaligus. Keunggulan dari system Parus RCWS adalah bentuknya yang ringkas dan kompak.


BTR-4M Korps Marinir TNI AL melakukan uji tembak (photo : Angkasa)

Seluruh sistem elektronik yang dibutuhkan dan mekaniknya sudah dikemas dalam kotak di atas kendaraan, sehingga di sisi bawah tidak ada keranjang kubah yang makan tempat. Pasukan dapat duduk dengan nyaman, cukup disediakan satu kursi untuk juru tembak yang membidik menggunakan layar LCD.

Banyaknya kombinasi senjata yang tersedia juga menjadi alasan lain kenapa Parus RCWS yang dipilih. Daftarnya mulai dari kanon otomatis 30mm ZTM-1/ 2A72 seperti yang terpasang pada BMP-2/3, yang sudah terbukti andal untuk menggasak berbagai macam sasaran.

Kanon ini diberi pelindung berupa rangka baja yang memanjang dari pangkal sampai ujung laras agar tidak terbentur di medan tempur. Kanon ZTM-1 pun sudah distabilisasi pada kedua sumbu sehingga memungkinkannya untuk tetap stabil menembak pada kecepatan rendah.

Untuk antiinfantri, disediakan senapan mesin 7,62mm PKT dan pelontar granat 30 mm AGS-17. Paduan dari dua senjata ini mampu menyediakan cakupan sasaran tunggal ataupun area pada jarak di luar jangkauan senjata ringan. Semua senjata yang menempel di Parus RCWS dapat diisi ulang dari dalam kompartemen pasukan BTR-4 sehingga mengurangi resiko awak tertembak.


BTR-4M Korps Marinir TNI AL melakukan uji tembak (photo : Angkasa)

Fitur terbaik dari kubah Parus yang dipasang dari BTR-4M sebenarnya tidak cuma itu. Kubah ini dilengkapi dengan sistem hunter-killer dimana komandan dapat mengintip sasaran dari modul kamera yang dapat dinaikkan ke atas dan berputar independen dari putaran kubah.

Komandan yang duduk di kursi depan dapat mengatur arah gerak dan zoom kamera ke sektor yang diinginkan melalui layar LCD yang tersedia di dasbor komandan. Jika dibutuhkan, komandan dapat melakukan override dan mengendalikan sendiri putaran kubah dan kendali penembakan.

Fitur yang jamaknya hanya ada pada Main Battle Tank tersebut diadopsi pada BTR-4 untuk memaksimalkan daya gebuknya. Fungsi intai ini akan sangat berguna mengingat Korps Marinir membutuhkan fungsi intai untuk Resimen Kavalerinya.

Untuk pengujian, BTR-4M mengambil jarak lebih dari 1.500 m dari lesan sasaran standar NATO yang terpasang di bukit seberang. Satu ranging telescope diletakkan di samping kendaraan untuk melakukan koreksi dan verifikasi atas hasil penembakan BTR-4M.

Setelah persiapan selesai, semua yang terlibat pun mulai ambil posisi. Pintu belakang kendaraan dibuka sebagai protokol standar pengujian penembakkan. Juru tembak mengarahkan bidikan ke lesan yang dengan mata telanjang nyaris tidak terlihat saking jauhnya, namun nampak jelas di layar LCD. Hitungan mundur pun dilakukan. 3…2…1….Tembak!!!


Kubah BM-7 Parus (image : Siregraph)

Blammm!!! Tembakan pertama dilepaskan, dan sebagian besar yang hadir menutup telinga karena kerasnya bunyi ledakan amunisi 30 mm yang proyektilnya melesat kencang menghantam telak sasarannya.

Jantung berdegup keras, walaupun ini bukan penembakan kanon 30 mm pertama yang diikuti oleh penulis. Lidah api dahsyat nan cemerlang tampak menyembur dari mulut laras ZTM-1 mengikuti lesatan proyektil ke sasaran, sementara penembakan dilakukan pada kondisi siang hari.

Pengamat pun mengintip melalui teleskop untuk melihat perkenaan tembakan. Tidak puas dengan tembakan tunggal, tembakan berikutnya dilakukan dengan rentetan dua peluru, lalu tiga peluru.

Bau mesiu meruap memenuhi udara, dan diikuti ekspresi gembira ketika peluru berhasil menghantam lesan setelah diverifikasi melalui ranging telescope.

Berikutnya juga diuji coba senapan mesin 7,62 mm dari tiga unit BTR-4M yang dilengkapi dengan kubah mekanik, dan berhasil pula sama seperti dua BTR-4M yang menggunakan kubah Parus.

(Angkasa)