20 Februari 2018

2 Choppers for New PHL Warships to Arrive September —Navy Chief

20 Februari 2018


AW-159 Wildcat (image : Finmeccanica)

BAGUIO CITY — Two helicopters that will be part of the two new warships of the Philippine Navy will be delivered in September.

“Oo, may darating na chopper sa September of this year, dalawa,” Navy flag-officer-in-command Rear Admiral Robert Empedrad told reporters during the Philippine Military Academy Alumni Homecoming on Saturday.

“Kasama ng frigate ‘yun supposed to be, laging sakay sa frigate dapat ‘yun,” he added, referring to the two warships built by South Korean company Hyundai Heavy Industries.

The frigate deal became controversial after then Navy Flag-Officer-In-Command Vice Admiral Ronald Joseph Mercado was relieved from the post for alleged insubordination and supposedly “jeopardizing” the frigate deal.

Special Assistant to the President Secretary Christopher “Bong” Go’s was also dragged into the issue for his alleged intervention in the selection of the Combat Management System (CMS) supplier for two Navy warships.

Go, backed up by the Palace, had denied the allegation.

Empedrad and Defense chief Delfin Lorenzana had also denied that Go intervened in the selection of the company that will supply the CMS.

Empedrad said that the helicopters will be delivered ahead of the two frigates because the Navy procured it even before the deal for the warships were signed.

Empedrad said the choppers were from AugustaWestland Limited.

Defense officials earlier said the choppers will boost the country's capability to defend its interest in the West Philippine Sea.

The Senate committee on national defense and security will conduct a hearing on the P15-billion frigate deal on Monday.

Go had said he will attend the hearing. Defense and Philippine Navy officials are also expected to attend.

(GMA News)

Barter Sukhoi, Rusia Harus Beli Komoditas RI Akhir Bulan Ini

20 Februari 2018


Pesawat tempur Su-35 (photo : UAC)

JAKARTA, iNews.id – Indonesia resmi menandatangani kontrak sebelas pesawat jet Sukhoi seri Su-35 dari Rusia senilai 1,14 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Pembelian tersebut juga akan melibatkan kewajiban Rusia membeli komoditas dari Indonesia.

Kendati demikian, Rusia hingga saat ini belum menentukan komoditas mana yang akan dibeli. Padahal Indonesia sudah menawarkan, beragam komoditas seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), kopi, kakao, teh, ikan, rempah-rempah, kopra, tekstil, alas kaki, plastik, resin, furnitur, dan produk lainnya.

“Dalam waktu dekat, harus segera dalam bulan ini harus selesai,” kata Oke Nurwan, Direktur Jenderal Luar Negeri Kementerian Perdagangan di Jakarta, Senin (19/2/2018).

Oke mengatakan, kontrak pembelian sukhoi tersebut mencapai 1,14 miliar dolar AS yang dibeli dengan skema imbal beli dimana Russia juga wajib membeli komoditas senilai pembelian alutsistat tersebut. Hal itu, kata dia, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 Tentang Industri Pertahanan.

Dalam UU tersebut dinyatakan bahwa setiap pengadaan alutsista dari luar negeri wajib disertakan imbal dagang dengan kandungan lokal (offset) minimal 85 persen dan paling rendah 35 persen dalam bentuk bahan baku, alih teknologi, pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain. Dengan begitu, Oke mengatakan, sisa 50 persen harus diganti dengan pembelian komoditas dari Indonesia sehingga Indonesia akan memperoleh potensi ekspor 570 juta dolar AS.

Oke menambahkan, skema serupa tidak hanya dilakukan terhadap pesawat jet sukhoi dari Rusia, tapi juga akan didorong untuk alutsista lain. Bahkan, kata dia, pemerintah berencana mengembangkan skema tersebut untuk impor di luar alutsista.

"Seperti yang kita rencanakan pembelian crude oil kita coba dengan mekanisme imbal beli dengan negara tertentu," kata dia.

Penandatanganan pembelian Sukhoi dilakukan pada Rabu (14/2/2018) lalu di Gedung Kementerian Pertahanan Jakarta. Pembelian pesawat dari Rusia ini untuk menggantikan pesawat tempur Northrop F-5 buatan AS yang kini sudah dipensiunkan di Museum TNI Angkatan Udara.

Dua dari sebelas pesawat tersebut rencananya akan sampai di Tanah Air pada Agustus 2019 sementara sisanya akan dikirim secara bertahap hingga 2020. Pembelian ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antar kedua negara di Moskow pada Agustus 2017.

(INews)

Transformasi Organisasi Maritim Malaysia

19 Februari 2018


Offshore Patrol Vessel untuk APMM (image : MMEA)

KUALA LUMPUR - Agensi Penguatkuasaan Ma­ritim Malaysia (Mari­tim Malaysia) buat pertama kalinya akan melakukan penstrukturan semula organisasi pasukan itu bagi meningkatkan lagi tahap kecekapan dan ke­selamatan perairan negara.

Transformasi yang bakal dilakukan itu juga bersempena Hari Ulang Tahun Maritim Malaysia ke-13 yang disambut pada hari ini (15 Februari 2018).

Ketua Pengarah Maritim Malaysia, Laksamana Maritim Datuk Sri Zulkifili Abu Bakar berkata, melalui penstrukturan tersebut, Maritim Malaysia sudah menyediakan pelan pelaksanaan yang mana Maritim Malaysia akan mewujudkan pejabat operasi ma­ritim di peringkat negeri dan zon bagi menggantikan pejabat pe­ringkat wilayah serta daerah.

Beliau berkata, penstrukturan baharu itu dijangka dapat memberikan perkhidmatan yang le­bih berkesan lebih-lebih lagi dengan wujudnya pejabat operasi ma­ritim sehingga ke peringkat pos hadapan maritim, yang akan dapat mempercepatkan operasi menyelamat dan memintas.

“Sejak ditubuhkan pada ta­hun 2005, Maritim Malaysia tidak pernah melakukan penstrukturan semula dan kini se­­lari dengan 13 tahun penu­buhannya, agensi itu harus ber­ubah dan bersifat lebih dinamik untuk terus kekal sebagai sebuah agensi penguatkuasaan yang bertanggungjawab ke atas keselamatan serta kedaulatan zon maritim Malaysia.


NGPC KM Bagan Datuk (photo : Jerry E)

“Oleh itu, Maritim Malaysia telah menghantar permohonan kepada Bahagian Pembangunan Organisasi, Jabatan Perkhidmat­an Awam untuk melakukan penstrukturan semula organisasi pa­sukan itu dalam tahun ini bagi melancarkan operasinya,” kata Zulkifili.

Maritim Malaysia memulakan operasinya pada 30 November 2005 selaras dengan penguatkuasaan Akta Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia 2004 (Akta 633).

Zulkifili berkata, setakat ini Maritim Malaysia mempunyai 5,369 perjawatan yang mana 87.82 peratus telah diisi dengan pelantikan pegawai dan anggota terdiri dari­pada perkhidmatan penguatkuasaan maritim, gunasama dan pelbagai lagi perkhidmatan.

Bagaimanapun katanya, berpandukan kepada Pelan Perancangan Strategik Maritim Malaysia 2040, agensi itu menyasarkan sebanyak 9,414 perjawatan pada tahun 2040 bagi memastikan aset-aset maritim dapat ber­operasi secara optimum.


AS365N3 Dauphin helicopter (photo : Radzi Desa)

“Antara perkara yang diberi perhatian adalah mewujudkan norma dan perjawatan bagi tiga buah kapal Offshore Petrol Vessel (OPV) yang akan diterima Maritim Malaysia pada tahun 2020.

“Kapal sepanjang 85 meter itu mampu untuk meronda di laut untuk tempoh empat hingga enam minggu dengan kekuatan anggota dianggarkan dalam 70 perjawatan untuk setiap kapal,” kata Zulkifili.

Selain itu katanya, APMM juga memerlukan tenaga kerja baharu bagi mengisi pejabat Pos Hadapan Maritim Batuan Tengah atau lebih dikenali sebagai Abu Bakar Maritime Base yang terletak di Batuan Tengah dan Pos Hadapan Pulau Layang-Layang serta Pos Hadapan Pulau Sipadan.

Jelasnya, penubuhan Pos Hadapan itu perlu diberikan keutamaan kerana ia melibatkan kedaulatan negara.


AW-139 helicopter (photo : Kamaruddin)

Pada masa sama katanya, APMM turut merancang untuk menambah bilangan anggota bot kepada 228 buah bot menjelang 2040 memandangkan aset tersebut penting sebagai kenderaan pemintas bagi mempercepatkan usaha membanteras jenayah di laut atau untuk usaha-usaha menyelamat.

“Memandangkan kini Maritim Malaysia telah diberi fungsi tambahan iaitu tidak hanya menjaga keselamatan di laut tetapi juga di udara di Zon Ekonomi Maritim Malaysia, maka agensi itu merancang untuk memiliki 15 pesawat helikopter dan 12 pesawat fixed wing serta me­ngukuhkan perjawatan di Stesen Udara Maritim Subang (SUMS) dan Cawangan Operasi Udara.

“Untuk memperkasakan lagi fungsi terbaharunya itu, Ma­ritim Malaysia juga telah menghantar empat pegawai penguat kuasa maritim menjalani kursus juruterbang perintis keluaran Maritim Malaysia yang pertama,” katanya.

(Utusan)

New Zealand Navy Turns to Vestdavit for Hands-on Experience

20 Februari 2018


RNZN picks Vestdavit kit for RHIB training (all photos : VestDavit)

Boat handling technology from Vestdavit is playing a central role in The Royal New Zealand Navy’s drive to operate Realistic Working Environments (RWE) at its new Devonport Naval Base training facility, Auckland, which is set to open in March.

RWE uses ‘like for like’ equipment to that installed on board RNZ Navy ships, working within a controlled training environment. The new centre includes a purpose-built landside facility housing a replica Inshore Patrol Vessel, plus an innovative Seamanship Training Aids Facility Pontoon (STA). The STA is kitted out with a range of equipment designed to allow new trainees to develop their seamanship skills in boat handling, rope work, anchoring, berthing and towing through repetition before they need to perform in an operational environment.

A PLAR-4000 davit from Vestdavit is a major feature of the pontoon, where it is mounted on the starboard side to allow personnel to practice boat approaches, launch and recovery of RHIBs. For obvious reasons, however, the RWE approach envisages operational training that equips seafarers to operates davits on both sides of a ship.



“Unlike a ship, the pontoon could only take one davit, but the requirement to train both port and starboard approaches remained,” explains Lieutenant Commander Angela Barker, RNZN Deputy Maritime Lead, Capability Branch. “In order to achieve this, we have had a dual receive cradle put in place and this will allow both approaches to be used.”

In addition, a sea-water cooling system has been installed to lengthen the training time of the equipment as the trainees will be repeating the activity at a much higher rate than would be the case at sea.

“The PLAR davit has been especially adapted to replicate the keel supports and boarding arrangements for port and starboard handling,” says Alasdair Morrison, New Zealand Manager for Vestdavit representative agency and partner Antelope Engineering. “Load testing was completed successfully at the end of October in Ruakaka, before the davit was transported to Devonport.”



Since 2000, Vestdavit has supplied 14 davits for seven NZ Navy vessels. The new NZ Navy fleet replenishment tanker Aotearoa, under construction at Hyundai Heavy Industries, South Korea and due delivery in 2019, will also feature twin davits from Vestdavit.

Naval architect Worley Parsons designed the STA project, with South Pacific Industrial acting as ship builder working with contractor H-Infrastructure Limited. The pontoon is fixed to two piles using an articulated truss. Other features include an accommodation ladder, Pilot and Boarding Assault ladder positions, a life raft launcher, a HIAB Crane and a Swimmer of the Watch Gantry.

(VestDavid)

19 Februari 2018

Pengamanan Laut Natuna Diperkuat, Satrol Lantamal IV Miliki 4 KRI

19 Februari 2018


KRI Lepu 861 kapal patroli jenis PC-40 (photo : defence.pk)

PANGKAL PINANG - Pangakalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjungpinang saat ini memiliki empat Kapal Negara Indonesia (KRI) untuk meningkatkan pengawasan dan keamanan laut. Keempat KRI adalah KRI Krait-827, KRI Silea-858, KRI Lepu-861, dan KRI Sigurot-864. KRI akan dimaksimalkan dalam menekan segala aksi kejahatan laut dan aksi penyelundupan di wilayah kerja Lantamal IV. 

"Satuan Kapal Patroli (Satrol) Lantamal IV saat ini memiliki empat KRI. Empat KRI ini baru dilimpahkan ke Lantamal IV. Nanti pola operasi KRI akan saya dispersikan ke pangkalan-pangkalan jajaran Lantamal IV," kata Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI R Eko Suyatno di Tanjungpinang, Jumat (16/2/2018). 

Lanjut, kata Eko, pengoperasian KRI akan dilaksanakan dengan pola penyebaran ke pangkalan lingkungan Lantamal IV, khususnya Lanal Ranai, Kabupaten Natuna. Menurut dia, Lanal Ranai mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan dukungan logistik serta administrasi bagi unsur-unsur TNI AL yang melaksanakan patroli di perairan yang menjadi tanggung jawabnya serta melaksanakan tugas-tugas lain berdasarkan kebijakan Pangarmabar dan Kepala Staf TNI AL. 

"Karena di sana (Laut Natuna) cukup rawan, di samping itu lautnya cukup menantang terutama pada saat musim utara," jelas dia. 

Selanjutnya Eko menyampaikan wilayah operasi Lanal Ranai memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi, karena terdapat jalur pelayaran internasional yaitu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia dan Vietnam. 

"Untuk itu, Lanal Ranai diharapkan mampu melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya," kata dia. 

Menurut dia, penguatan Lanal Ranai harus dimaksimalkan penginderaan dan fungsi pangkalan dan pos labu. Di Natuna telah dibangun Pusat Komando TNI AL (Puskodal) yang dapat memantau situasi ke depan atau situasi Laut Natuna Utara. Dia menyampaikan, TNI sudah membangun pangkalan di sana mulai dari TNI AD dan Marinir. 

"Fungsi pangkalan dimaksimalkan. Kita mengikuti kebijakan pimpinan TNI dan pimpinan TNI AL," ucap dia. 

Dia menjelaskan, sejak tanggal 22 Januari 2018 TNI AL telah melakukan likuidasi Satrol Koarmabar dan Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Lantamal dan membentuk Satrol Lantamal IV. Lantamal yang sebelumnya hanya memiliki Kapal Angkatan Laut (KAL) dan Patroli Keamanan Laut (Patkamla), dengan adanya Satrol akan diperkuat kapal-kapal patroli yang canggih. 

Kehadiran Satrol Lantamal IV mampu memproyeksikan unsur-unsur kekuatannya dalam rangka mengamankan wilayah perairan sekaligus merespon berbagai kerawanan yang terjadi. "Sekarang Lantamal telah diperkuat kapal-kapal patroli dengan kemampuan manuver unggul, sebagai upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi serta untuk menjaga kesiapan operasi unsur-unsur dalam penanganan reaksi cepat di wilayah yuridiksi nasional Indonesia," tutup dia. 

Eko menambahkan, Lantamal IV juga terus berupaya menekan adanya penyelundupan barang-barang ilegal ke Indonesia, khususnya Kepri. Tidak hanya itu, Lantamal IV terus memerangi peredaran narkoba terutama penyelundupan narkoba dari luar negeri. Lantamal akan terus bersinergi dengan instansi lain.

"Peran kita sekarang meningkatkan penginderaan dan intelegensi. Pola yang dilaksanakan sekarang dengan efektif dan efesien. Kalau ada informasi pasti baru kita operasi dengan diterjunkan tim khusus," ucap Eko.

(SindoNews)

PAF Now Looking for New Suppliers of Helicopters

19 Februari 2018


PAF is looking for other suppliers of combat utility helicopter (photo : FlightGlobal)

MANILA -- With the cancellation of the Bell 412 EPI contract from Bell Helicopter and Canadian Commercial Corporation (CCC), the Philippine Air Force (PAF) is now looking again for possible suppliers capable of supplying it with aircraft with similar capabilities.

The possible suppliers and their respective countries would be determined by the research of the technical working group, PAF head Lt. Gen. Galileo Gerard Kintanar said Saturday.

This would follow the same procurement process instituted for the Bell 412 EPI contract, he added.

"As of now we do not want to speculate. the (technical) working group will look into (for) any solution from the east and western countries," Kintanar said.

The Department of National Defense (DND) earlier issued a notice to CCC terminating the contract for the supply and delivery of 16 units of Bell 412 combat utility helicopters for the PAF.

In a statement, DND public affairs office chief Arsenio Andolong said this is in compliance with President Rodrigo Duterte's directive and pursuant to the Government Procurement Law (RA 9184) which authorized contract termination for the convenience of the government.

The move comes after the Canadian government ordered the review of the PHP12-billion deal between the DND and CCC after receiving reports that the Philippines is planning to use the helicopters against rebel forces.

"While the combat utility helicopters being purchased are primarily for thepurpose of transporting personnel and supplies, the Department believes that it does not owe the Canadian government any justification for an outright purchase of equipment from a privately-owned company," Andolong said.

He also stressed that the DND will continue to pursue the modernization program, and will look into procuring the combat utility helicopters from other countries in lieu of the Bell 412. 

(PNA)

TNI AU Siapkan Bom Pintar untuk Persenjatai Jet Tempur F-16 C/D dari AS

19 Februari 2018


Smart bomb produk dalam negeri (photo : Defense Studies)

Persenjatai Jet Tempur F-16 C/D dari AS, TNI AU Siapkan Bom Pintar, Begini Bentuk dan Spesifikasinya

BANGKAPOS.COM--Sebanyak 24 unit jet tempur F-16 C/D 52ID dari Amerika Serikat akhirnya sudah tiba semua di awal tahun 2018 ini.

Datangnya F-16 C/D yang bisa untuk membentuk 2 skadron itu langsung membuat sibuk Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau).

Bagaimanapun juga, Dislitbangau harus memproduksi banyak bom untuk mempersenjatainya.

Sejumlah bom hasil penelitian dan pengembangan Dislitbangau seperti BTN-100 dan BT-500 memang telah sukses diuji coba dan mendapat sertifikasi serta siap digunakan oleh F-16 C/D.

Pada Juni 2014, sejumlah persenjataan berupa Bom Tajam (BTN)-100, BT-200 dan BT-500, sukses diuji coba di kawasan Lanud Iswahyudi, Madiun, dan Air Shooting Range (ASR) di Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur.

Uji bom berlangsung dua tahap yaitu pengujian statis dan pelepasan bom.

Uji coba secara statis baru bisa dikatakan berhasil jika bom yang dipasang di sayap pesawat stabil dan bisa dijatuhkan dengan landasan yang diberi bantalan berupa kasur berlangsung stabil dan aman.

Sedangkan uji coba pelepasan bom menggunakan pesawat Sukhoi Su-27/30 dan F-16 itu dapat berjalan secara sempurna karena bisa menyasar ke parameter yang telah ditentukan.

Alat-alat penguji ledakan bom yang digunakan untuk menganalisis berbagai kemampuan bom juga berfungsi secara maksimal.

Salah satu yang menjadi parameter pengujian adalah kecepatan bom, akurasi bom terhadap sasaran, daya dan jangkauan ledakan, bentuk serpihan bom, dan sebagainya.

Untuk memasuki proses produksi bom secara massal, perusahaan terkait ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan jumlah bom yang harus diproduksi juga harus sesuai permintaan Kemhan.

Setelah sukses mengembangkan bom BT-500 hingga memasuki tahap produksi secara massal, saat ini Dislitbangau juga masih berusaha keras menciptakan bom pintar (smart bomb).

Jenis bom berdaya ledak besar yang dalam proses kerjanya setelah dijatuhkan dari pesawat bisa menghantam sasaran secara akurat berkat alat pemandu.

Sesuai dengan proses penelitian dan pengembangan smart bomb, Dislitbangau sebenarnya sudah harus memasuki tahap uji coba baik secara statis maupun pelepasan (release).

Dalam berbagai pameran persenjataan dalam negeri, smart bomb Dislitbangau bahkan sudah sering dipamerkan dan menjadi perhatian khusus para pengunjung dari kalangan militer.

Dislitbangau memang masih menghadapi kendala untuk menguji smart bombkarena belum memiliki perangkat untuk mengujinya.

Jika sudah ada Dislitbangau siap melakukan uji coba hingga smart bomb segera siap operasional.

(TribunNews)