06 September 2017

PTDI Pertimbangkan Tawaran TAI

06 September 2017


Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia dan Lapan (photo : Lapan)

Turki Siap Kerja Sama Garap N219 untuk Pasar Afrika

VIVA.co.id – Grafik pemasaran pesawat karya anak negeri produksi PT. Dirgantara Indonesia, N219, mengalami peningkatan usai uji terbang perdana pada Rabu, 16 Agustus 2017.

Hal tersebut terungkap seusai dialog rencana kerja sama PT. Dirgantara Indonesia dengan Universitas Indonesia untuk menjadikan industri pertahanan Indonesia yang mandiri pada 2045, Selasa, 5 September 2017.

Direktur Produksi PT. Dirgantara Indonesia, Arie Wibowo menjelaskan, setelah uji terbang itu partner bisnis PT. DI dari negara-negara luar, memberikan ucapan selamat.

"Banyak memberikan selamat ke kita bahwa mampu dalam waktu yang relatif pendek. Kita bisa menerbangkan tanpa ada apa-apa, safe. Ini suatu kebangkitan," ungkap Arie di pusat PT. DI, Kota Bandung Jawa Barat.

Menurutnya, apresiasi mereka bukan hanya sebatas wacana, melainkan keinginan membeli pesawat N219 diajukan. Menurutnya, N219 tergolong cocok digunakan di negara-negara berkembang.

"Partner kami kan Airbus dari Eropa. Negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand ada keinginan sekarang, dia memberikan apresiasi dengan ikutan beli," katanya.

Arie memastikan, pesawat akan dikirimkan setelah sertifikat layak beroperasi N219 didapatkan pada akhir 2018.

"Yang sudah investasi itu Thailand, Myanmar. Beberapa Negara yang tidak bisa saya hitung, tapi mereka sudah menunggu," katanya.

Bahkan, untuk memperpanjang grafik penjualan, PT. DI mendapatkan tawaran dari Turkish Aerospace Industries (TAI) untuk merancang N219 yang nantinya dijual di Afrika.

"Turki untuk dipasarkan di Afrika. Kerja sama bikin N219 bersama-sama di sana untuk dipasarkan di Afrika. Menurut saya sangat logika, karena kalau bikin di sini pesawatnya kecil, mesti dikirim ke Senegal atau ke mana, berapa hari mengirimnya," katanya.

Menurutnya, tawaran tersebut sangat logis untuk mendapatkan keuntungan, mengingat ukuran pesawat kecil. Arie mengatakan, tawaran Turki akan diambil karena perusahaan tersebut punya pengalaman yang kompetitif.

"Mendingan diproduksi saja di sana. Support-nya by government. Mereka statusnya jauh lebih bisa helikopter tempur, badannya F22," terangnya.

(Viva)

13 komentar:

  1. Tentunya pesawat n219 ini akan menjadi pesaixng bagus dengan pabrikan lain. Good good Indonesia

    BalasHapus
  2. Ade yg jealous lihat kita bisa bikin pesawat. Sementara tetangga sebelah bikin vita berapi pun takde yg melirik. Kasiaaaaan....

    BalasHapus
  3. selamat fetedei akhirnye dapet jg dirut baru.
    tinggal bbrp lg kudu dituker guling tuch haha!

    tetap sabar & apa adanya. jgn terlalu ambisi macem2 dech..soalnye tatut gak fokus malah ntar telat lage haha!

    kesuksesan akan datang pd waktunya, memulai dari yg kecil dulu, lama2 jd bukit.

    jayalah fetedei, teruslah ber reformasi sambil berkarya. lanjutken!

    BalasHapus
    Balasan
    1. https://finance.detik.com/industri/3623790/ptdi-punya-dirut-baru

      Hapus
  4. "Mereka statusnya jauh lebih bisa helikopter tempur, badannya F22," terangnya.


    om smilikitty, alinea trakhir artinya apaan sich?
    antara lebay ame halusinasi,
    heli mutan f22, cem maenanye om daru kyknya haha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw baru dengar saya heli mutan f22.
      BTW mereka pengalaman bikin TAI Hurkus walaupun cuma sampai prototype :D

      Hapus
    2. iya, proto hurkus mala uda dpt sertifikat,tinggal tunggu peminat saje, mpok

      jam terbang perakitan pesawat mrk pun tinggi, uda perna dpt lisensi pespur f16 dan masi byk lg.

      kalo dipikir2 mrk lbh maju. tp tetap mau belajar dan bekerja sama dgn banyak produsen pesawat, mo besar/kecil.

      kalo soal fuselage & tailboom kgk usa dipamer2in dech ke mreka haha!

      guwe liat kerjaan mrk slama ini, jadi kagum mpok,
      https://en.wikipedia.org/wiki/Turkish_Aerospace_Industries

      Hapus
    3. TAI has more experience in several field, for example : produce licensed F-16. That PTDI must learn from it.

      And in other hand, PTDI (and was IPTN) had experience more than TAI. For example: CN235 join design, N250 design (that occured in 1990s). And now the N219 design solely by Indonesia.

      So the two need each other to complement their experience and knowledge.

      Hapus
    4. Mungkin yg ngomong lg kurang Aqua hehehe, f35 disangka f22

      Hapus
    5. kalo dipikir2 judul diatas lebih seram dari isinya.

      teringat om kerokan haha!

      Hapus
  5. Tempel terus turki dan korsel untuk program pertahanan.mereka juga sama seperti kita tapi lebih dulu belajar dan fokus.kasel lanjut aja ma turki mereka nggka pelit juga untuk tot

    BalasHapus