07 September 2017

Turki Tawarkan Kerja Sama Pembuatan Kapal Selam dan UAV Termasuk Control Systemnya

07 September 2017


Anka MALE UAV buatan TAI Turki (photo : Army Recognition)

Turki Tawarkan Kerja Sama Pembuatan Kapal Selam dan Pesawat Tanpa Awak

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Soetrimo bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Turki Ismail Demir di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu (6/9/2017).

Pertemuan bertajuk The 6th Defence Industry Cooperation Meeting itu membahas mengenai kerja sama antara Indonesia dan Turki di bidang industri pertahanan.

Soetrimo mengatakan, dalam pertemuan tersebut Pemerintah Turki menawarkan kerja sama pembuatan kapal selam dan unmanned aerial vehicle (UAV) atau pesawat terbang tanpa awak.

"Pada pertemuan tadi Turki menawarkan kerja sama pembuatan kapal selam 214 kemudian juga menawarkan UAV kelas MALE dan control system," ujar Soetrimo saat ditemui usai pertemuan.

Menurut Soetrimo, pemerintah Turki berkomitmen untuk membantu Indonesia dalam mengembangkan industri pertahanan agar mandiri. Pemerintah Turki, kata Soetrimo, bersedia membantu pembuatan kapal selam hingga industri pertahanan Indonesia mampu memproduksinya sendiri.

"Mereka akan membantu sampai menguasai kita menguasai betul (pembuatan kapal selam) kemudian control system-nya juga," ucapnya.

Soetrimo menuturkan hasil pertemuan tersebut akan dilaporkan ke Menteri Pertahanan untuk dikaji bersama pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, tawaran kerja sama dari pihak Turki akan juga dilaporkan ke DPR untuk meminta dukungan dan persetujuan.



Control systems UAV Anka (photo : MilliSavunmaSanayii)

"Nanti akan kami laporkan kepada pimpinan untuk dikoordinasikan kepada seluruh stakeholder masuk juga kepada parlemen dan pimpinan tertinggi. Kami akan kaji tawaran itu dan ke parlemen supaya mendapat dukungan soal budget agar kerja sama dengan Turki bisa diperluas," kata Soetrimo.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertahanan Turki Ismail Demir berharap kerja sama dengan Indonesia bisa terus diperluas dan diperkuat. Hal tersebut, kata dia, akan memperkuat hubungan bilateral kedua negara yang semakin baik.

"Kami harap kerja sama ini bisa berlanjut lebih jauh. Besok juga akan ada pertemuan dengan pelaku industri untuk menentikan langkah apa yang akan diambil selanjutnya," ujar Ismail.

Seperti dikutip dari keterangan pers Kementerian Pertahanan, Indonesia memandang Turki sebagai partner yang sangat penting. Pertemuan tersebut menunjukkan peran Turki sebagai partner strategis Indonesia sangat besar.

Pada pameran industri pertahanan IDEF 2016 di Istanbul, Indonesia dan Turki meluncurkan Medium Tank Kaplan, hasil kerja sama PT Pindad dengan FNSS. Kerja sama antara Indonesia dan Turki semakin kuat setelah kunjungan Presiden Turki ke Indonesia pada 2011 dan 2015.

Pada kunjungan Presiden Joko Widodo ke Ankara, kedua negara sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang kedirgantaraan dan alat komunikasi.

Saat ini, Kementerian Pertahanan RI dan Kementerian Pertahanan Turki sedang menjajaki penyusunan Defence Cooperation Agreement (DCA) sebagai payung hukum kerja sama pertahanan.

Pihak Indonesia sudah mengirimkan draf DCA tersebut dan tinggal menunggu persetujuan dari pihak Turki.

(Kompas)

10 komentar:

  1. So, the design of 214 can be comboned & implemented with 209 and Changbogo design?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya terbalik mas drop zone...u-214 sbg turunan dr u-209 mempertahankan hal2 yang sdh proven di u-209/cbg mulai dr desain hull(termasuk layout ruangan), propulsi, mesin disel dsb. Beda utamanya adl u-214 dilengkapi dg aip sbg perlengkapan standar, sdg pd u-209 bersifat opsional.

      Sedangkan cms, sensor dan senjatanya mengikuti dg evolusi tiap2 item tsb dan bersifat kompatibel.

      Hapus
    2. Yes, you are right. U-214 is a derivative of U-209. The U-212 ia a different kind, right?

      Hapus
    3. Yub, petul mas DZ...salah dua pembedanya adl desain dobel-deck pd kompartemen/kabin awaknya dan penggunaan material amagnetik

      Hapus
  2. May be yes.. it is new design..generation 4.. like KFX\iFX..

    BalasHapus
  3. lah katanya pang5 minta kilokilo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi sayang, "kilonya bukan kita punya"...lanjut panglima, hhh

      Hapus
  4. Semuanya bisa kalo berani keluar uang...
    Type 214 seharga 650-800 juta dolar.
    Type 209 versi baru (belanda) 550 juta dolar.
    Type 209 versi chabonggo 350 juta dolar.
    Chabonggo lebih murah karna masih pake sistem analog taun 80an yg ditot dari german kpd korsel .
    Improved chaboonggo udah upgrade digital.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah mirip makelar kapal selam mas...(becanda).

      Itu harga u-214 nya kemahalan mas, sampeyan mark up harganya ketinggian (coba dikasi linknya dong). Produk generik spt u-214 atau u-209 harga dasarnya kurang lebih setara, bedanya kalo ada kustomisasi pd produk tsb.

      Kalo yang mahal itu produk pesanan khusus spt dolphin milik israel yang didesain khusus walopun merupakan turunan(modifikasi tingkat berat) dari u-209. Atau u-214 pesanan portugis yang menggunakan baja dg grade lebih tinggi dibanding u-214 lainnya, spy bisa nyelem lebih dalam lagi...dan lagi.

      Aku gak ngerti maksudnya dg u-209 versi baru (belanda)...???

      Aku jg ga paham maksutnya CBG masi pake sistim analog, sedangkan Imp.CBG sdh digital.

      CBG itu lisensi dr u-209/1200...kalo sekarang kita beli tipe itu, sistim didalamnya pasti menyesuaikan dg teknologi terkini, krn sistim yang lama(yg dibilang analog itu) sudah diskontinyu dan tidak kompatibel dg sonar atau senjata generasi sekarang....jadi kayaknya kesimpulan tsb kurang tepat mas.

      Hapus
    2. Changbogo thn 80-an pake sistem analog sapa yg mau beli bego,sekarang mn ada lg di produksi submarine pake sistem analog,semuanya sudah modern pake computerized

      Hapus