20 Februari 2018

2 Choppers for New PHL Warships to Arrive September —Navy Chief

20 Februari 2018


AW-159 Wildcat (image : Finmeccanica)

BAGUIO CITY — Two helicopters that will be part of the two new warships of the Philippine Navy will be delivered in September.

“Oo, may darating na chopper sa September of this year, dalawa,” Navy flag-officer-in-command Rear Admiral Robert Empedrad told reporters during the Philippine Military Academy Alumni Homecoming on Saturday.

“Kasama ng frigate ‘yun supposed to be, laging sakay sa frigate dapat ‘yun,” he added, referring to the two warships built by South Korean company Hyundai Heavy Industries.

The frigate deal became controversial after then Navy Flag-Officer-In-Command Vice Admiral Ronald Joseph Mercado was relieved from the post for alleged insubordination and supposedly “jeopardizing” the frigate deal.

Special Assistant to the President Secretary Christopher “Bong” Go’s was also dragged into the issue for his alleged intervention in the selection of the Combat Management System (CMS) supplier for two Navy warships.

Go, backed up by the Palace, had denied the allegation.

Empedrad and Defense chief Delfin Lorenzana had also denied that Go intervened in the selection of the company that will supply the CMS.

Empedrad said that the helicopters will be delivered ahead of the two frigates because the Navy procured it even before the deal for the warships were signed.

Empedrad said the choppers were from AugustaWestland Limited.

Defense officials earlier said the choppers will boost the country's capability to defend its interest in the West Philippine Sea.

The Senate committee on national defense and security will conduct a hearing on the P15-billion frigate deal on Monday.

Go had said he will attend the hearing. Defense and Philippine Navy officials are also expected to attend.

(GMA News)

Barter Sukhoi, Rusia Harus Beli Komoditas RI Akhir Bulan Ini

20 Februari 2018


Pesawat tempur Su-35 (photo : UAC)

JAKARTA, iNews.id – Indonesia resmi menandatangani kontrak sebelas pesawat jet Sukhoi seri Su-35 dari Rusia senilai 1,14 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Pembelian tersebut juga akan melibatkan kewajiban Rusia membeli komoditas dari Indonesia.

Kendati demikian, Rusia hingga saat ini belum menentukan komoditas mana yang akan dibeli. Padahal Indonesia sudah menawarkan, beragam komoditas seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), kopi, kakao, teh, ikan, rempah-rempah, kopra, tekstil, alas kaki, plastik, resin, furnitur, dan produk lainnya.

“Dalam waktu dekat, harus segera dalam bulan ini harus selesai,” kata Oke Nurwan, Direktur Jenderal Luar Negeri Kementerian Perdagangan di Jakarta, Senin (19/2/2018).

Oke mengatakan, kontrak pembelian sukhoi tersebut mencapai 1,14 miliar dolar AS yang dibeli dengan skema imbal beli dimana Russia juga wajib membeli komoditas senilai pembelian alutsistat tersebut. Hal itu, kata dia, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 Tentang Industri Pertahanan.

Dalam UU tersebut dinyatakan bahwa setiap pengadaan alutsista dari luar negeri wajib disertakan imbal dagang dengan kandungan lokal (offset) minimal 85 persen dan paling rendah 35 persen dalam bentuk bahan baku, alih teknologi, pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain. Dengan begitu, Oke mengatakan, sisa 50 persen harus diganti dengan pembelian komoditas dari Indonesia sehingga Indonesia akan memperoleh potensi ekspor 570 juta dolar AS.

Oke menambahkan, skema serupa tidak hanya dilakukan terhadap pesawat jet sukhoi dari Rusia, tapi juga akan didorong untuk alutsista lain. Bahkan, kata dia, pemerintah berencana mengembangkan skema tersebut untuk impor di luar alutsista.

"Seperti yang kita rencanakan pembelian crude oil kita coba dengan mekanisme imbal beli dengan negara tertentu," kata dia.

Penandatanganan pembelian Sukhoi dilakukan pada Rabu (14/2/2018) lalu di Gedung Kementerian Pertahanan Jakarta. Pembelian pesawat dari Rusia ini untuk menggantikan pesawat tempur Northrop F-5 buatan AS yang kini sudah dipensiunkan di Museum TNI Angkatan Udara.

Dua dari sebelas pesawat tersebut rencananya akan sampai di Tanah Air pada Agustus 2019 sementara sisanya akan dikirim secara bertahap hingga 2020. Pembelian ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antar kedua negara di Moskow pada Agustus 2017.

(INews)

Transformasi Organisasi Maritim Malaysia

19 Februari 2018


Offshore Patrol Vessel untuk APMM (image : MMEA)

KUALA LUMPUR - Agensi Penguatkuasaan Ma­ritim Malaysia (Mari­tim Malaysia) buat pertama kalinya akan melakukan penstrukturan semula organisasi pasukan itu bagi meningkatkan lagi tahap kecekapan dan ke­selamatan perairan negara.

Transformasi yang bakal dilakukan itu juga bersempena Hari Ulang Tahun Maritim Malaysia ke-13 yang disambut pada hari ini (15 Februari 2018).

Ketua Pengarah Maritim Malaysia, Laksamana Maritim Datuk Sri Zulkifili Abu Bakar berkata, melalui penstrukturan tersebut, Maritim Malaysia sudah menyediakan pelan pelaksanaan yang mana Maritim Malaysia akan mewujudkan pejabat operasi ma­ritim di peringkat negeri dan zon bagi menggantikan pejabat pe­ringkat wilayah serta daerah.

Beliau berkata, penstrukturan baharu itu dijangka dapat memberikan perkhidmatan yang le­bih berkesan lebih-lebih lagi dengan wujudnya pejabat operasi ma­ritim sehingga ke peringkat pos hadapan maritim, yang akan dapat mempercepatkan operasi menyelamat dan memintas.

“Sejak ditubuhkan pada ta­hun 2005, Maritim Malaysia tidak pernah melakukan penstrukturan semula dan kini se­­lari dengan 13 tahun penu­buhannya, agensi itu harus ber­ubah dan bersifat lebih dinamik untuk terus kekal sebagai sebuah agensi penguatkuasaan yang bertanggungjawab ke atas keselamatan serta kedaulatan zon maritim Malaysia.


NGPC KM Bagan Datuk (photo : Jerry E)

“Oleh itu, Maritim Malaysia telah menghantar permohonan kepada Bahagian Pembangunan Organisasi, Jabatan Perkhidmat­an Awam untuk melakukan penstrukturan semula organisasi pa­sukan itu dalam tahun ini bagi melancarkan operasinya,” kata Zulkifili.

Maritim Malaysia memulakan operasinya pada 30 November 2005 selaras dengan penguatkuasaan Akta Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia 2004 (Akta 633).

Zulkifili berkata, setakat ini Maritim Malaysia mempunyai 5,369 perjawatan yang mana 87.82 peratus telah diisi dengan pelantikan pegawai dan anggota terdiri dari­pada perkhidmatan penguatkuasaan maritim, gunasama dan pelbagai lagi perkhidmatan.

Bagaimanapun katanya, berpandukan kepada Pelan Perancangan Strategik Maritim Malaysia 2040, agensi itu menyasarkan sebanyak 9,414 perjawatan pada tahun 2040 bagi memastikan aset-aset maritim dapat ber­operasi secara optimum.


AS365N3 Dauphin helicopter (photo : Radzi Desa)

“Antara perkara yang diberi perhatian adalah mewujudkan norma dan perjawatan bagi tiga buah kapal Offshore Petrol Vessel (OPV) yang akan diterima Maritim Malaysia pada tahun 2020.

“Kapal sepanjang 85 meter itu mampu untuk meronda di laut untuk tempoh empat hingga enam minggu dengan kekuatan anggota dianggarkan dalam 70 perjawatan untuk setiap kapal,” kata Zulkifili.

Selain itu katanya, APMM juga memerlukan tenaga kerja baharu bagi mengisi pejabat Pos Hadapan Maritim Batuan Tengah atau lebih dikenali sebagai Abu Bakar Maritime Base yang terletak di Batuan Tengah dan Pos Hadapan Pulau Layang-Layang serta Pos Hadapan Pulau Sipadan.

Jelasnya, penubuhan Pos Hadapan itu perlu diberikan keutamaan kerana ia melibatkan kedaulatan negara.


AW-139 helicopter (photo : Kamaruddin)

Pada masa sama katanya, APMM turut merancang untuk menambah bilangan anggota bot kepada 228 buah bot menjelang 2040 memandangkan aset tersebut penting sebagai kenderaan pemintas bagi mempercepatkan usaha membanteras jenayah di laut atau untuk usaha-usaha menyelamat.

“Memandangkan kini Maritim Malaysia telah diberi fungsi tambahan iaitu tidak hanya menjaga keselamatan di laut tetapi juga di udara di Zon Ekonomi Maritim Malaysia, maka agensi itu merancang untuk memiliki 15 pesawat helikopter dan 12 pesawat fixed wing serta me­ngukuhkan perjawatan di Stesen Udara Maritim Subang (SUMS) dan Cawangan Operasi Udara.

“Untuk memperkasakan lagi fungsi terbaharunya itu, Ma­ritim Malaysia juga telah menghantar empat pegawai penguat kuasa maritim menjalani kursus juruterbang perintis keluaran Maritim Malaysia yang pertama,” katanya.

(Utusan)

New Zealand Navy Turns to Vestdavit for Hands-on Experience

20 Februari 2018


RNZN picks Vestdavit kit for RHIB training (all photos : VestDavit)

Boat handling technology from Vestdavit is playing a central role in The Royal New Zealand Navy’s drive to operate Realistic Working Environments (RWE) at its new Devonport Naval Base training facility, Auckland, which is set to open in March.

RWE uses ‘like for like’ equipment to that installed on board RNZ Navy ships, working within a controlled training environment. The new centre includes a purpose-built landside facility housing a replica Inshore Patrol Vessel, plus an innovative Seamanship Training Aids Facility Pontoon (STA). The STA is kitted out with a range of equipment designed to allow new trainees to develop their seamanship skills in boat handling, rope work, anchoring, berthing and towing through repetition before they need to perform in an operational environment.

A PLAR-4000 davit from Vestdavit is a major feature of the pontoon, where it is mounted on the starboard side to allow personnel to practice boat approaches, launch and recovery of RHIBs. For obvious reasons, however, the RWE approach envisages operational training that equips seafarers to operates davits on both sides of a ship.



“Unlike a ship, the pontoon could only take one davit, but the requirement to train both port and starboard approaches remained,” explains Lieutenant Commander Angela Barker, RNZN Deputy Maritime Lead, Capability Branch. “In order to achieve this, we have had a dual receive cradle put in place and this will allow both approaches to be used.”

In addition, a sea-water cooling system has been installed to lengthen the training time of the equipment as the trainees will be repeating the activity at a much higher rate than would be the case at sea.

“The PLAR davit has been especially adapted to replicate the keel supports and boarding arrangements for port and starboard handling,” says Alasdair Morrison, New Zealand Manager for Vestdavit representative agency and partner Antelope Engineering. “Load testing was completed successfully at the end of October in Ruakaka, before the davit was transported to Devonport.”



Since 2000, Vestdavit has supplied 14 davits for seven NZ Navy vessels. The new NZ Navy fleet replenishment tanker Aotearoa, under construction at Hyundai Heavy Industries, South Korea and due delivery in 2019, will also feature twin davits from Vestdavit.

Naval architect Worley Parsons designed the STA project, with South Pacific Industrial acting as ship builder working with contractor H-Infrastructure Limited. The pontoon is fixed to two piles using an articulated truss. Other features include an accommodation ladder, Pilot and Boarding Assault ladder positions, a life raft launcher, a HIAB Crane and a Swimmer of the Watch Gantry.

(VestDavid)

19 Februari 2018

Pengamanan Laut Natuna Diperkuat, Satrol Lantamal IV Miliki 4 KRI

19 Februari 2018


KRI Lepu 861 kapal patroli jenis PC-40 (photo : defence.pk)

PANGKAL PINANG - Pangakalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjungpinang saat ini memiliki empat Kapal Negara Indonesia (KRI) untuk meningkatkan pengawasan dan keamanan laut. Keempat KRI adalah KRI Krait-827, KRI Silea-858, KRI Lepu-861, dan KRI Sigurot-864. KRI akan dimaksimalkan dalam menekan segala aksi kejahatan laut dan aksi penyelundupan di wilayah kerja Lantamal IV. 

"Satuan Kapal Patroli (Satrol) Lantamal IV saat ini memiliki empat KRI. Empat KRI ini baru dilimpahkan ke Lantamal IV. Nanti pola operasi KRI akan saya dispersikan ke pangkalan-pangkalan jajaran Lantamal IV," kata Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI R Eko Suyatno di Tanjungpinang, Jumat (16/2/2018). 

Lanjut, kata Eko, pengoperasian KRI akan dilaksanakan dengan pola penyebaran ke pangkalan lingkungan Lantamal IV, khususnya Lanal Ranai, Kabupaten Natuna. Menurut dia, Lanal Ranai mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan dukungan logistik serta administrasi bagi unsur-unsur TNI AL yang melaksanakan patroli di perairan yang menjadi tanggung jawabnya serta melaksanakan tugas-tugas lain berdasarkan kebijakan Pangarmabar dan Kepala Staf TNI AL. 

"Karena di sana (Laut Natuna) cukup rawan, di samping itu lautnya cukup menantang terutama pada saat musim utara," jelas dia. 

Selanjutnya Eko menyampaikan wilayah operasi Lanal Ranai memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi, karena terdapat jalur pelayaran internasional yaitu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia dan Vietnam. 

"Untuk itu, Lanal Ranai diharapkan mampu melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya," kata dia. 

Menurut dia, penguatan Lanal Ranai harus dimaksimalkan penginderaan dan fungsi pangkalan dan pos labu. Di Natuna telah dibangun Pusat Komando TNI AL (Puskodal) yang dapat memantau situasi ke depan atau situasi Laut Natuna Utara. Dia menyampaikan, TNI sudah membangun pangkalan di sana mulai dari TNI AD dan Marinir. 

"Fungsi pangkalan dimaksimalkan. Kita mengikuti kebijakan pimpinan TNI dan pimpinan TNI AL," ucap dia. 

Dia menjelaskan, sejak tanggal 22 Januari 2018 TNI AL telah melakukan likuidasi Satrol Koarmabar dan Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Lantamal dan membentuk Satrol Lantamal IV. Lantamal yang sebelumnya hanya memiliki Kapal Angkatan Laut (KAL) dan Patroli Keamanan Laut (Patkamla), dengan adanya Satrol akan diperkuat kapal-kapal patroli yang canggih. 

Kehadiran Satrol Lantamal IV mampu memproyeksikan unsur-unsur kekuatannya dalam rangka mengamankan wilayah perairan sekaligus merespon berbagai kerawanan yang terjadi. "Sekarang Lantamal telah diperkuat kapal-kapal patroli dengan kemampuan manuver unggul, sebagai upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi serta untuk menjaga kesiapan operasi unsur-unsur dalam penanganan reaksi cepat di wilayah yuridiksi nasional Indonesia," tutup dia. 

Eko menambahkan, Lantamal IV juga terus berupaya menekan adanya penyelundupan barang-barang ilegal ke Indonesia, khususnya Kepri. Tidak hanya itu, Lantamal IV terus memerangi peredaran narkoba terutama penyelundupan narkoba dari luar negeri. Lantamal akan terus bersinergi dengan instansi lain.

"Peran kita sekarang meningkatkan penginderaan dan intelegensi. Pola yang dilaksanakan sekarang dengan efektif dan efesien. Kalau ada informasi pasti baru kita operasi dengan diterjunkan tim khusus," ucap Eko.

(SindoNews)

PAF Now Looking for New Suppliers of Helicopters

19 Februari 2018


PAF is looking for other suppliers of combat utility helicopter (photo : FlightGlobal)

MANILA -- With the cancellation of the Bell 412 EPI contract from Bell Helicopter and Canadian Commercial Corporation (CCC), the Philippine Air Force (PAF) is now looking again for possible suppliers capable of supplying it with aircraft with similar capabilities.

The possible suppliers and their respective countries would be determined by the research of the technical working group, PAF head Lt. Gen. Galileo Gerard Kintanar said Saturday.

This would follow the same procurement process instituted for the Bell 412 EPI contract, he added.

"As of now we do not want to speculate. the (technical) working group will look into (for) any solution from the east and western countries," Kintanar said.

The Department of National Defense (DND) earlier issued a notice to CCC terminating the contract for the supply and delivery of 16 units of Bell 412 combat utility helicopters for the PAF.

In a statement, DND public affairs office chief Arsenio Andolong said this is in compliance with President Rodrigo Duterte's directive and pursuant to the Government Procurement Law (RA 9184) which authorized contract termination for the convenience of the government.

The move comes after the Canadian government ordered the review of the PHP12-billion deal between the DND and CCC after receiving reports that the Philippines is planning to use the helicopters against rebel forces.

"While the combat utility helicopters being purchased are primarily for thepurpose of transporting personnel and supplies, the Department believes that it does not owe the Canadian government any justification for an outright purchase of equipment from a privately-owned company," Andolong said.

He also stressed that the DND will continue to pursue the modernization program, and will look into procuring the combat utility helicopters from other countries in lieu of the Bell 412. 

(PNA)

TNI AU Siapkan Bom Pintar untuk Persenjatai Jet Tempur F-16 C/D dari AS

19 Februari 2018


Smart bomb produk dalam negeri (photo : Defense Studies)

Persenjatai Jet Tempur F-16 C/D dari AS, TNI AU Siapkan Bom Pintar, Begini Bentuk dan Spesifikasinya

BANGKAPOS.COM--Sebanyak 24 unit jet tempur F-16 C/D 52ID dari Amerika Serikat akhirnya sudah tiba semua di awal tahun 2018 ini.

Datangnya F-16 C/D yang bisa untuk membentuk 2 skadron itu langsung membuat sibuk Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau).

Bagaimanapun juga, Dislitbangau harus memproduksi banyak bom untuk mempersenjatainya.

Sejumlah bom hasil penelitian dan pengembangan Dislitbangau seperti BTN-100 dan BT-500 memang telah sukses diuji coba dan mendapat sertifikasi serta siap digunakan oleh F-16 C/D.

Pada Juni 2014, sejumlah persenjataan berupa Bom Tajam (BTN)-100, BT-200 dan BT-500, sukses diuji coba di kawasan Lanud Iswahyudi, Madiun, dan Air Shooting Range (ASR) di Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur.

Uji bom berlangsung dua tahap yaitu pengujian statis dan pelepasan bom.

Uji coba secara statis baru bisa dikatakan berhasil jika bom yang dipasang di sayap pesawat stabil dan bisa dijatuhkan dengan landasan yang diberi bantalan berupa kasur berlangsung stabil dan aman.

Sedangkan uji coba pelepasan bom menggunakan pesawat Sukhoi Su-27/30 dan F-16 itu dapat berjalan secara sempurna karena bisa menyasar ke parameter yang telah ditentukan.

Alat-alat penguji ledakan bom yang digunakan untuk menganalisis berbagai kemampuan bom juga berfungsi secara maksimal.

Salah satu yang menjadi parameter pengujian adalah kecepatan bom, akurasi bom terhadap sasaran, daya dan jangkauan ledakan, bentuk serpihan bom, dan sebagainya.

Untuk memasuki proses produksi bom secara massal, perusahaan terkait ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan jumlah bom yang harus diproduksi juga harus sesuai permintaan Kemhan.

Setelah sukses mengembangkan bom BT-500 hingga memasuki tahap produksi secara massal, saat ini Dislitbangau juga masih berusaha keras menciptakan bom pintar (smart bomb).

Jenis bom berdaya ledak besar yang dalam proses kerjanya setelah dijatuhkan dari pesawat bisa menghantam sasaran secara akurat berkat alat pemandu.

Sesuai dengan proses penelitian dan pengembangan smart bomb, Dislitbangau sebenarnya sudah harus memasuki tahap uji coba baik secara statis maupun pelepasan (release).

Dalam berbagai pameran persenjataan dalam negeri, smart bomb Dislitbangau bahkan sudah sering dipamerkan dan menjadi perhatian khusus para pengunjung dari kalangan militer.

Dislitbangau memang masih menghadapi kendala untuk menguji smart bombkarena belum memiliki perangkat untuk mengujinya.

Jika sudah ada Dislitbangau siap melakukan uji coba hingga smart bomb segera siap operasional.

(TribunNews)

HMAS Hobart Continues Sea Trials

19 Februari 2018


Electronics technicians prepare HMAS Hobart's Phalanx close-in weapons system (CIWS) ahead of the ship's first ever live CIWS firing. (photo : RAN)

No shortage of milestones for DDG-39

HMAS Hobart has achieved a number of firsts for her class and the Royal Australian Navy over the past several weeks off the east coast of Australia.

Hobart successfully tested her 20mm Close-In Weapons System (CIWS) against an inflatable surface target, marking the first ever time an Australian warship has fired a CIWS capable of striking air and surface targets.

The ship’s five-inch main gun was tested against a towed target from varying distances and directions in an early morning naval gunfire exercise.

Two practice delivery torpedoes were also fired from the port and starboard tubes with both torpedoes recovered for analysis by Navy’s Surface Forces branch.

Test Director Lieutenant Commander David Small of Surface Forces oversaw the program of firing serials and said they would help prove the true capabilities of Australia’s newest warships.

“First-of-class trials set a baseline for the performance of a new class of ship”, he said.


HMAS Hobart fires a round from her Mk 45 Mod 6 5-inch gun during test firing off the east coast of Australia. (photo : RAN)

“The next key aim is to validate our standard operating procedures as two more guided missile destroyers come online.”

“Surface Forces will now prepare a trial report of observations and recommendations, including changes to procedure or potential physical changes to the ship itself.”

Hobart completed a number of other evolutions for the first time during her trial period, including a replenishment at sea with HMAS Anzac and a deep water anchor in the waters off Jervis Bay.

Commanding Officer Captain John Stavridis said the ship had shown its capability in a number of war-like scenarios.

“HMAS Hobart is an outstanding warship that is up to the rigours that come with a busy tempo”, he said.

“Many of the things we have achieved for the first time these past several weeks will be daily requirements of this ship over decades to come and we’ve shown we are a guided missile destroyers with a ruthlessly professional crew that gets the job done.”

Hobart will conduct further trials throughout the year culminating with an evaluation period in the United States.

(RAN)

17 Februari 2018

Dua Sukhoi Su-35 Diharapkan Tiba 2019

17 Februari 2018

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 (photo : Maxim Khusainov)

Setelah melewati berbagai proses dan penantian yang lama, akhirnya Kementerian Pertahanan menandatangani kontrak pembelian 11 pesawat tempur Su-35. Penambahan pesawat tempur ini diharapkan bisa meningkatkan kemampuan militer Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara.

”Ya, betul, kontrak pembelian Sukhoi sudah ditandatangani,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Totok Sugiharto, Jumat (16/2).

Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, penandatanganan kontrak pembelian Sukhoi ini dilakukan oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Agus Setiadji dengan Perwakilan dari Rosoboronexport, Yuri. Penandatanganan dilaksanakan pada Rabu, 14 Februari, pukul 11.23.

Nilai kontrak 11 pesawat tempur itu adalah 1,14 miliar dollar AS. Sebagaimana disepakati sebelumnya, nilai ini juga disertai dengan skema imbal beli, offset, dan transfer teknologi. Di Indonesia akan diadakan tempat pemeliharaan sehingga pesawat itu tidak perlu lagi dibawa ke Rusia untuk pemeliharaan.

Diharapkan, hal ini juga bisa mendorong negara-negara di ASEAN yang memiliki Sukhoi untuk melaksanakan pemeliharaan pesawatnya di Indonesia. Walaupun sempat disebutkan imbal dagang di antaranya dengan menggunakan produk karet, rincian tentang transfer teknologi ataupun imbal dagang dan offset ini juga belum terperinci disampaikan ke publik.

Totok Sugiharto mengatakan, rencana pengiriman pesawat tersebut akan dilakukan secara bertahap. Apabila semua lancar, termasuk berlakunya efektif kontrak pada Agustus 2018, dua pesawat Sukhoi Su-35 akan dikirimkan ke Indonesia pada Agustus 2019. Enam unit berikutnya akan dikirimkan pada Februari 2020, sedangkan tiga unit lainnya pada Juli 2020.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya mengatakan, TNI AU mendukung penandatanganan kontrak pesawat pengganti F-5. Menurut dia, sudah hampir dua tahun para penerbang di Skuadron Udara 14 tidak terbang, sejak pesawat F-5 dinyatakan tak bisa dipakai lagi. ”Kami harapkan pengganti F-5 segera tiba di Tanah Air,” kata Jemi.

(Kompas)

Pangkalan Baharu Maritim Malaysia di Pahang

17 Februari 2018


Kapal patroli APMM dari Jepang (photo : APMM)

KUANTAN: Sebuah pangkalan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (Maritim Malaysia) Wilayah Timur akan dibina di Pahang, bagi memastikan kawalan keselamatan di perairan negara berada pada tahap optimum.

Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Shahidan Kassim, berkata pangkalan berkenaan bakal meliputi penempatan warga Maritim Malaysia.

Katanya, peruntukan untuk tujuan itu sudah diluluskan pada Julai tahun lalu tetapi enggan mendedahkan nilainya.

"Pangkalan berkenaan akan meliputi pentadbiran di Pantai Timur termasuk sebahagian Johor dan kita mencari lokasi sesuai untuk tujuan itu.

"Kontraktor sudah dilantik dan apabila lokasi dikenal pasti, kerja pembersihan kawasan dilakukan sebelum pembinaan dimulakan," katanya.

Beliau berkata demikian kepada pemberita selepas merasmikan Sambutan Hari Ulang Tahun Maritim Malaysia ke-13 dan Perbarisan Tamat Latihan di Akademi Maritim Sultan Ahmad Shah (AMSAS), di sini, hari ini.

Hadir sama, Ketua Pengarah Maritim Malaysia, Laksamana Maritim Datuk Seri Zulkifli Abu Bakar.

Seramai 383 pelatih menamatkan latihan asas Leftenan Muda Maritim dan Bintara Muda.

Maritim Malaysia mencatat sejarah apabila Leftenan Maritim Aida Arzahri, 35, menjadi wanita pertama dilantik sebagai pegawai memerintah kapal kerajaan di Malaysia dan akan meneraju KM Nyalau yang berpangkalan di Lumut, Perak.

Shahidan berkata, selari pembangunan Rancangan Malaysia ke-11 (RMKe-11), pihaknya meneruskan perolehan dan penggantian aset bagi memperkasakan keupayaan penguatkuasaan dan carilamat.

Katanya, Maritim Malaysia kini memiliki empat kapal jenis New Generation Patrol Craft (NGPC) manakala baki dua unit lagi akan diterima Jun depan.

"Kita juga merancang memperoleh kapal induk bagi melaksanakan pelbagai tugas dan misi dalam tempoh 21 hari di laut, sekali gus dapat meningkatkan prestasi penguatkuasaan dan carilamat.

"Antara perolehan lain adalah sistem C4ISR (Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance), bot laju, helikopter dan pesawat pemantauan maritim," katanya.

Dalam perkembangan lain, Shahidan berkata, Maritim Malaysia berjaya mengurangkan kadar jenayah kepada kurang tiga peratus tahun lalu berbanding 48.08 peratus pada 2006.

"Kita turut memungut kira-kira RM307 juta hasil denda terhadap nelayan asing, pelupusan kapal, kompaun dan lelongan ikan dari 2006 hingga 2017," katanya.

(Berita Harian)

Radar Hughes Marinir Untuk Modernisasi Batalyon Infantri dan Artileri

17 Februari 2018


Pengujian radar Kelvin Hughes oleh Korps Marinir (photos : Korps Marinir)

Marinir Uji Coba Radar Hughes

Dispen Kormar (Hambalang). Korps Marinir TNI Angkatan Laut melakukan uji coba dan kepelatihan Radar tipe pengamatan permukaan/Darat, Radar Hughes atau yang dikenal Ground Surveyland Radar System (GSRS) di Bukit Hambalang, Sentul Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/02/18).



Uji fungsi ini dilakukan guna mengetahui kemampuan mendeteksi, mengetahui dan mengidentifikasi musuh yang bergerak berupa kendaraan maupun personel secara terus menerus dari arah 360 derajat dan dapat dibuat Zona Clearing Alarm yang dapat mendeteksi musuh yang masuk wilayah tertentu. yang rencananya akan memperkuat Alkapsus Korps Marinir menjadi lebih modern, khususnya Batalyon Infanteri Marinir dan Artileri Korps Marinir.



Radar Hughes menyediakan solusi surveilans mobile berbasis radar yang lengkap untuk integrasi dengan kendaraan, Sistem dapat dikerahkan sebagai radar mobile SharpEye SxV tunggal yang terintegrasi dengan sistem tiang - tiang teleskopik kendaraan atau trailer mandiri.



Dengan radar SharpEye sebagai sensor pendeteksi utama, badan pengawas dan patroli keamanan dapat memantau dan mencegat ancaman di tempat terpencil dan sulit untuk mengakses lokasi dalam rentang yang panjang. Solusi radar pengawas seluler memungkinkan pergerakan lokasi yang sering dan mudah dengan kemampuan penyebaran dan pengawasan segera dalam beberapa detik setelah meningkatkan radar dan kamera.


Radar Kelvin Hughes GSRS (photo : Kevin Hughes)

Radar Hughes merupakan radar generasi baru buatan Inggris yang dirancang sesuai dengan kemajuan teknologi dan perkembangan kemampuan yang dapat mendeteksi pesawat tanpa awak (Drone), Radar Huges dilengkapi Kontrol Kamera, Video, Pelacakan dan Informasi Sasaran, Tampilan Peta, dan Kompatibilitas Perangkat Keras.


Radar Kelvin Hughes GSRS (photo : Kevin Hughes)


Uji coba dan kepelatihan Radar Hughes ini ditinjau oleh Kolonel Mar Enjang Suryana, Aslog Dankormar Kolonel Mar Budiarso, Kadismat Kormar Kolonel Mar Agung Trisnanto, Danbrigif-2 Mar Kolonel Mar Kresno Pratowo, Danmenart-2 Letkol Mar Wahyudi Saputra.

(Marinir)

16 Februari 2018

Australian Industry Proves World Beater, Smashing $1BN Milestone for Superjet

16 Februari 2018


RAAF F-35A (photo : Australian Aviation)

The Minister for Defence Industry, the Hon Christopher Pyne MP, today announced that Australian industry has been collectively awarded over $1 billion in production for the F-35 program.

The strength of Australia’s defence industry has made it a significant and crucial contributor to the program which will support up to 5000 Australian jobs by 2023.

“More than 50 Australian companies directly shared in the production contracts to date, with many more indirectly benefiting through supply chain work,” Minister Pyne said.

“Australian industry continues to prove its global competitiveness by performing better than initial forecasts, with Australian industry involvement expected to exceed $2 billion by 2023.”

“The journey of Australian industry’s involvement in the global F-35 Program has been one of great success and long-term economic opportunity for Australia.

In 2016 the Joint Strike Fighter program supported more than 2400 jobs across Australia, which is set to grow to 5000 by 2023.

“Further opportunities are expected for Australian companies to increase production contract values over the next four years as F-35 production rates more than double.

“Australian industry is manufacturing parts that will be fitted to every F-35 aircraft in production across the globe.

“Australian success in the Joint Strike Fighter program isn’t limited to manufacturing parts. Australian industry has also been chosen as the maintenance hub for the engines, airframes and 64 of 65 components which have been assigned by the Joint Project Office.

“When I travel to the U.S. in April I will be arguing for more work for Australia, we have the capability and we deserve the work,” Minister Pyne said.

In a major milestone for the Australian F-35A Project, the first Australian-made Vertical Tail – produced by Victorian-based company Marand – was fitted to Australia’s third F-35A aircraft as it neared completion at Lockheed Martin’s production facility in Fort Worth, Texas, in August 2017.

The stealthy, advanced F-35A represents a significant change in capabilities and will give Australia an edge against the emergence regionally of advanced capabilities.

The first two Australian F-35A aircraft are scheduled to arrive for permanent basing at RAAF Base Williamtown, New South Wales, in December.

By the time of Final Operating Capability, expected in December 2023, Australia will have a training squadron and three operational squadrons comprising 72 aircraft.

(RAAF)

KSAU Akan Bentuk Satu Skuadron Jupiter Aerobatic Team

16 Februari 2018


Jupiter Aerobatic Team TNI AU (photo : Antara)

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna berencana membentuk satu skadron khusus Jupiter Aerobatic Team (JAT). Tim ini nantinya fokus mengembangkan kemampuanya di bidang Aerobatic. 

"Ke depan saya akan memisah antara JAT dengan tugas-tugas instruktur. Jadi akan dibuat flight tersendiri. Mereka akan kita bina, lebih fokus lagi mengembangkan kemampuan di bidang aerobatic," ujarnya saat pemberian pin kualifikasi dan piagam penghargaan kepada penerbang Jupiter Aerobatic Team (JAT) di Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, kemarin. 

Yuyu menjelaskan, selama ini para penerbang JAT yang berasal dari Skadron Pendidikan (Skadik) 102 Lanud Adi Sutjipto merupakan instruktur penerbang. Selain mengajar siswa sekolah penerbang, mereka juga berlatih sebagai penerbang JAT. 

"Jadi mereka cukup berat tugasnya dengan dua kegiatan tersebut. Konsep saya ke depan JAT ini akan tetap saya pertahankan karena sudah membawa nama baik AU dan bangsa Indonesia di event-event internasional," katanya.


Pesawat KT-1B yang dipakai JAT (photo : Metrotvnews)

Dengan adanya pemisahan ini, sambung Yuyu, mereka tidak dibebani lagi dengan tugas mengajar di sekolah penerbang maupun sekolah instruktur penerbang. Dengan demikian, mantan Wakasau ini menegaskan, mereka akan lebih fokus mengembangkan kemampuannya. 

"Tentunya keselamatan terbang dan kerja akan lebih terjamin. Harapan saya ke depan, ini (JAT) berkembang dan bisa tampil di forum-forum internasional yang lebih besar lagi," kata Yuyu. 

Meski demikian, mantan Pangkohanudnas ini mengaku, masih mengkaji kemungkinan untuk tampil di forum-forum internasional seperti di negara-negara Eropa, Australia dan sebagainya. "Untuk yang lebih jauh, karena pesawat kita propeler masih kita pikirkan ya. Tapi untuk yang ASEAN Insya Allah akan kita hadiri. Seperti di Singapura dan Malaysia akan kita hadiri. Untuk di Australia, karena jauh kita perlu effort sangat besar," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya mengatakan, terkait dengan pemisahan dan pembentukan skadron khusus Jupiter Aerobatic Team, banyak hal-hal yang harus dikaji dari berbagai aspek,  Termasuk kesiapan pesawat, para awak penerbang dan sebagainya. 

"Saya belum dapat data-datanya terkait kebijakan beliau yang baru disampaikan dan rencananya akan di dalami oleh tim nantinya dalam sebuah kelompok kerja yang ditunjuk oleh KSAU," ucapnya. 

(SindoNews)

3 PAF Attack Helicopters up for Repairs

16 Februari 2018


PAF MD-520 Defender (photo : Phillipine Defense Today)

MANILA -- Three of the Philippine Air Force (PAF)'s McDonnell Douglas MG-520 "Defender" attack helicopters will be having their engine systems overhauled and repaired for the sum of PHP8 million.

The sum is intended for the acquisition of parts and services needed for the maintenance of MG-520 helicopters with tail numbers 505, 506, and 507.

The PAF is known to operate around 12 to 16 models of the MG-520.

The Air Force acquired 25 units of these helicopters in the early 1990s and it was used to support troops during encounters with the New People's Army and lawless elements like the Abu Sayyaf Group for the past few years.

The MG-520 is derived from the MG-500 light utility helicopter.

It can be armed with .50 caliber heavy machine gun and air-to-ground rockets. Pre-bid conference is scheduled on Thursday, 3 p.m. at the PAF Procurement Center Conference Room, Villamor Air Base, Pasay City.

While submission and opening of bids is on Feb. 27, 9 a.m. at the same venue, PAF Bids and Awards Committee chair Brig. Gen. Erickson Gloria said in the bid bulletin posted at the Philippine Government Electronic Procurement System.

(PNA)

PT PAL Indonesia Siap Naikkan Utilisasi Produksi

16 Februari 2018

PT PAL siap menambah produksi kapal (photo : Piet Sinke)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PAL Indonesia (Persero) siap meningkatkan utilisasi produksi di tahun ini. Sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PAL juga siap untuk mengekspor kapal.

Tahun lalu utilisasi produksi PT PAL masih sekitar 10%-15% dari total kapasitas. Asal tahu kapasitas fabrikasi terpasang PT PAL sebesar 2.100 ton per tahun dan kapasitas pembangunan kapal sebesar 1.680 ton per tahun.

"Kami harapkan utilisasi produksi bisa naik hingga jadi 50%," kata Budiman Saleh, Direktur Utama PT PAL Indonesia kepada Kontan.co.id, Selasa (13/2).

Budiman berharap permintaan dari penguatan Alutsista TNI Angkatan Laut, proyek Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia didapat oleh PT PAL. "Kami juga berharap mendapat proyek kapal dari negara ASEAN dan juga Afrika untuk bisa kami produksi," kata Budiman.

Potensi perolehan order dalam negeri bila diperinci yakni kapal 
-OVH/overhaul KRI Cakra, 
-pengembangan platform KCR 60 Batch 2, 
-KCR 60 SEWACO (Kapal 3 & 4), 
-Platform + SEWACO (Kapal 5 & 6), 
-PKR 3 dan 4, 
-dua unit Offshore Patrol Vessel (OPV) 80-90 meter, 
-Mine Counter Measure Vessel (MCMV) sebanyak dua unit.

Di luar negeri permintaaan potensi perolehan kapal berasal segmen LPD Class, KCR, Container Shop, Ferry Roro, kapal tanker dan kargo. Negara tujuan di ASEAN yakni Thailand, Malaysia, dan FIlipina. Sementara di Afrika seperti Senegal.

Selain proyek pembangunan kapal, PAL pun siap untuk mengerjakan proyek perbaikan kapal dan juga maintenance. Selain itu kapal pembangkit listrik dan komponen pembangkit listrik juga juga dibangun.

(Kontan)

Singapore Confirms it’s Using Apache Helicopters in Air Defense Role

16 Februari 2018


RSAF AH-64D (photo : Tan Jing Heng)

MELBOURNE, Australia ― Singapore has confirmed it is using the Boeing AH-64D Apache attack helicopter in an air defense role, as part of the Southeast Asian island nation’s multilayered, networked air defense system.

In response to queries from Defense News, Singapore’s Defence Ministry said “the AH-64D is one of the platforms the Air Defence Task Force can leverage for air defence to protect Singapore against a wide spectrum of air threats.”

Defense News also spoke to some of the crew of the Republic of Singapore Air Force Apaches that were on the static display at the recent Singapore Airshow, who confirmed the aircraft’s use for air defense.

The decision to utilize the Apache in such a role was driven in part by the advantages that the slower Apache has at certain flight regimes, namely against “low and slow” targets such as light aircraft or UAVs; fast jet interceptors may have difficulty keeping station and maintaining visual contact.

Should the need arise, targets can be engaged with the Apache’s Orbital ATK M230 Chain Gun. The Apache crew declined to confirm if aerial targets could be detected and cued with the Lockheed Martin-Northrop Grumman AN/APG-78 Longbow Fire Control Radar, although the radar product card says that it is able to search, detect, locate, classify and prioritize “multiple moving and stationary targets on land, air, and water in all weather and battlefield conditions.”

The crew did not disclose whether there are Apaches placed on permanent readiness for Singapore’s air defense missions, citing operational security.

The Air Force currently operates 20 AH-64D helicopters, with eight based at the Silverbell Army Heliport in Marana, Arizona, for the Peace Vanguard detachment. The remainder are based in Singapore with the service’s 120 Squadron. The fleet is being upgraded with new satellite communications, believed to the Elta-Israel Aerospace Industries EL/K-1891 Ku-band system and an integrated electronic warfare system, which Defense News has previously identified as being from Elbit.

Singapore set up its air defense task force in 2010 as part of the Singapore military’s high-readiness core to monitor its skies as well as respond swiftly and decisively against potential air threats day and night. It leverages cross-domain and cross-function capabilities, such as the Air Force’s suite of sensors, flying platforms and ground-based air defense systems within a networked, integrated air defense system that operates around the clock.

(DefenseNews)

15 Februari 2018

Kontrak Pengadaan Su-35 Telah Diteken

15 Februari 2018


Pesawat tempur Su-35 (photo : Vitaly Kuzmin)

Kontrak Pengadaan Diteken, Sukhoi Su-35 Tiba di Indonesia Oktober

JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemhan) akhirnya menandatangani kontrak pengadaan pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi Su-35. 

"Sudah (tanda tangan kontrak-red) pada Rabu 14 Februari 2018, di Indonesia," ujar Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik, Kemhan Brigadir Jenderal TNI Totok Sugiharto, kepada SINDOnews, Kamis (15/2/2018). 

Rencananya dua pesawat tempur canggih ini tiba pada Oktober mendatang dengan persenjataan lengkap. 

"Insya Allah, full combat," katanya.  

Seperti diketahui, pembelian pesawat Sukhoi Su-35 ini bertujuan untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah tidak layak terbang. "Sebanyak 11 pesawat Sukhoi Su-35 full combat," tegas mantan Kapendam V/Brawijaya ini. 

Alasan memilih Sukhoi Su-35 untuk memperkuat pertahanan Indonesia, pernah diungkap Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, Agustus tahun lalu.

Menurut dia, pesawat tempur jenis terbaru ini memiliki kemampuan mengunci target. "Dari jauh, dia (Sukhoi SU-35) sudah bisa tahu ada berapa target dan menyiapkan peluru ya untuk menembak," kata Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Selasa 22 Agustus 2017. (SindoNews)

KSAU Benarkan Kontrak Pengadaan Su-35 Sudah Ditandatangani Kemhan

ANGKASAREVIEW.COM – Beredar kabar, Kementerian Pertahanan (Kemhan) sudah menandatangani kontrak pengadaan pesawat tempur Su-35 dari Rusia. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna membenarkan hal itu.

“Sudah ditandatangani,” ujar KSAU saat dikonfirmasi Angkasa Review, Kamis (15/2/2018) sore.

Informasi beredarnya berita penandatanganan kontrak pengadaan pesawat Su-35 awalnya disampaikan oleh Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskompublik) Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiharto, Kamis siang saat dikonfirmasi wartawan.

Kementerian Pertahanan sendiri belum secara resmi menyampaikan detail hal itu dalam keterangan persnya. Totok mengatakan, penandatanganan telah dilaksanakan pada Rabu, (14/2).

Sebelumnya, KSAU berharap agar kontrak pengadaan pesawat pengganti F-5E/F itu segera terlaksana mengingat Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi yang akan menaungi Su-35 TNI AU ini sudah lama tidak memiliki pesawat.

“Saya harapkan Februari ini bisa terlaksana tanda tangan kontrak pengadaan Su-35,” ujar Marsekal Yuyu di sela pelaksanaan Rapim TNI AU di Mabesau, Cilangkap pada 26 Januari lalu. (AngkasaReview)